Sebab, mantan mahasiswa yang penulis temui itu berbalik sikapnya ketika pada suatu waktu diajaknya oleh seseorang yang adalah guru ngaji (dari Nahlatul Ulama/NU) untuk berselawat bersama tuna netra. Dan dari sana dia menangis dan tersentuh hatinya, sehingga menganggap bahwa sikap kerasnya selama ini adalah salah belaka. Dari sini dimulailah sikap barunya untuk mengenal NU lebih jauh.
Dari contoh di atas bisa disimpulkan bahwa kita bisa saja menjadi sasaran gerakan yang ekstrem, kaku, dan mengatasnamakan jihad atau khilafah tersebut; jika kita tidak punya tradisi beragama yang kuat (maksudnya yang kita pelajari di kampung), atau jika kita tidak berada di lingkungan yang tepat, atau jika kita tidak punya dasar logika yang bagus (misalnya karena kita suka membaca buku sehingga logika berpikir kita kuat), maka kita bisa saja terkecoh oleh mereka. Karena gerakan tersebut sungguh lihai dalam memanipulasi pikiran sasarannya. Padahal jika kita punya dasar logika yang kuat, kita akan mudah mencari benang merah yang kita ditunjukkan kecatatan logika mereka, terutama dalam konteks masyarakat demokrasi, atau lebih-lebih tentang hubungan antara negara dan agama Islam. Wassalam.

