Terlibatnya agama dalam urusan politik akhirnya menyebabkan terjadi pecah belah dan adu domba. Jika dulu, misalnya di Aceh, dengan terlibatnya tokoh agama dalam memerangi penjajah, terutama kisah mengenai mereka yang menggunakan sastra bernama Hikayat Perang Sabil yang dihafal di luar kepala dan senantiasa diceritakan demi membangkitkan semangat jihad/berjuang, sampai-sampai Belanda memberangus karya sastra Perang Sabil tersebut. Jelas hal itu memiliki konteks yang berbeda dengan sekarang ini. Soekarno pernah memperingatkan kita, bahwa setelah menghadapi penjajah, yang lebih berat adalah menghadapi bangsa kita sendiri. Sebuah kalimat yang menyarikan dari sabda Nabi SAW yang berbunyi kira-kira, perang besar ini belum apa-apa dibandingkan perang manusia melawan hawa nafsunya sendiri.
Kembali ke persoalan kesalahan masyarakat kita akibat doktrin dari Orde Baru, yaitu benci PKI. Hal ini berpengaruh besar pada kita, sehingga kita enggan membaca dan melihat sisi lain dari sejarah yang dimanipulasi rezim Soeharto itu. Padahal jika kita bernalar atau berlogika dengan benar, kita akan membacanya sebagai “politik adu domba” ala-ala Belanda dulu melalui tokohnya yang diutus dan terkenal itu, Snouck Hurgronje, yang gagal mengadu domba dalam perang Aceh. Namun, sekali lagi konteks Aceh dan Indoensia sekarang sungguh lain sama sekali. Penulis tentu turut bersedih dengan apa yang terjadi pada Aceh sekarang ini.

Kebencian terhadap PKI itulah yang bersarang di “tubuh” dan “kepala” FPI, sehingga membutakan mereka daripada melihat sejarah, yang dulu tentu saja jika digambarkan secara logis, yang terjadi adalah kelompok dari kekuasaan (peralatan yang akhirnya hidup di rezim Orde Baru) memakai baju PKI kemudian membunuh Banser, begitu sebaliknya.
