Gombal Pak Sarwa

“Untungnya, Jo, saya sudah menyiapkan segala kebutuhan anak saya sejak dini,” kata Pak Sarwa sambil mengambil sebatang sigaret, lalu menyulutnya dengan sangat ekspresif, pertanda bahwa cerita Pak Sarwa akan semakin serius, semakin panjang, semakin berbuih; dan Paijo mulai bersiap diri untuk menjadi pendengar yang baik. Dan benar. Cerita berlanjut pada peristiwa penutupan sebuah usaha atau bisnisnya di Jakarta. Lalu seluruh asetnya yang bernilai hampir semiliar rupiah itu dijual, kemudian disimpan dalam bentuk deposito. “Begitulah, Jo, bunga deposito saya sudah cukup untuk sekadar menutup biaya sekolah anak saya sampai ke perguruan tinggi.”

Tapi keesokan harinya Paijo dibuatnya bengong. Hari itu, tidak seperti biasanya, Pak Sarwa tidak memulai pembicaraannya dengan tawa yang tersembur-sembur. Ia memang tetap datang dalam gegas dengan gerakan yang terburu-buru, namun dengan mimik yang kusut. Setelah menyurukkan tas hitam dan kaca mata hitamnya di atas meja bundar, ia membanting pantatnya pada kursi yang biasa diduduki. Kakinya ia julurkan lurus menggantung di lantai. Tubuhnya disandarkan dalam diam. Agak lama ia berdiam diri. Tercenung. Dan Paijo hanya diam menunggu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Jo, tolong ya, bisa pinjami saya uang Rp 200 ribu untuk bayar SPP anak saya.”

Paijo makin terdiam. Bengong.

“Benar, Jo. Ini sangat mendadak. Ini benar-benar darurat. Tidak biasanya saya lambat membayari uang SPP anak saya. Tolong saya, pinjami Rp 200 ribu saja,” Pak Sarwa harus mengulang perkataannya. Tapi Paijo masih diam. Masih bengong. Juga bingung. Terlintas di benaknya cerita Pak Sarwa sehari sebelumnya tentang penjualan seluruh aset usahanya yang nilainya hampir semiliar rupiah, yang kini disimpannya dalam bentuk deposito, yang bunganya saja cukup untuk menutup biaya sekolah anaknya hingga ke perguruan tinggi. Paijo membatin, jika cerita Pak Sarwa benar, kenapa untuk membayar SPP yang cuma Rp 200 ribu saja harus mencari utangan.

Setelah agak lama terdiam dan bengong, Paijo bergegas melangkah ke belakang. Bukan ke kamar tidur untuk mengambil uang, melainkan ke kamar mandi, lalu mengelus dan memijit perutnya yang mengeras lantaran menahan tawa, dan kencing sebanyak-banyaknya.

***

“Ha-ha-ha…”

Dan, lihatlah, Paijo mulai ketularan Pak Sarwa. Ia mulai biasa ngakak dulu sebelum berbicara. “Ha-ha-ha… sehari sebelumnya ia mendongeng sampai berbuih tentang depositonya. Eh, kemarin nongol cuma mau pinjang uang Rp 200 ribu. Saya bengong. Saya heran. Pikir saya, apa dia lupa soal depositonya itu. Ha-ha-ha…”

Aku tidak tahu benar, apakah saat itu Paijo memberinya pinjaman atau tidak. Aku juga tidak merasa perlu menduga-duga soal itu. Bukankah Paijo sendiri juga sedang kesulitan uang? Dan Paijo sendiri sepertinya juga tak hendak bercerita soal itu. Jika aku berkunjung ke rumahnya, sehari setelah Pak Sarwa datang hendak pinjam uang itu, Paijo lebih banyak bercerita soal apa saja tentangnya. Tentang ceritanya yang panjang dan semakin panjang. Tentang dongengnya yang berbuih dan semakin berbuih. Dan Paijo juga mulai sering meniru gaya Pak Sarwa dalam bercerita, dalam mendongeng. Diawali dengan tawa yang meledak-ledak, ditutup dengan gelak yang melengking.

Dan Paijo memang tidak membual. Ketika pada suatu siang aku bertandang ke rumahnya, aku bertemu dengan Pak Sarwa yang sedang mengobrol dengan Paijo. Semula aku cuma menjadi pendengar yang baik. Namun, pada akhirnya aku juga terlibat obrolan, dan secara khusus, pembicaraan dengan Pak Sarwa. Ia banyak bercerita tentang masa lalunya. Tentang pergulatan hidupnya ketika kuliah pada sebuah institut seni di Jakarta. Tentang perjuangan dan pembelaan terhadap idealismenya dan pengalamannya disekap tentara ketika menjadi wartawan. Tentang bisnisnya di Jakarta yang berkembang pesat tapi kemudian ditinggalkannya karena alasan nurani dan idealisme. Dan tentang kesibukannya tahun-tahun terakhir sebagai pekerja seni. Juga tentang apa saja! Pendek kata, Pak Sarwa adalah tokoh yang serba! Tapi kita tidak pernah tahu apa sesungguhnya pekerjaan atau profesi Pak Sarwa. Itulah kesan yang aku tangkap setelah beberapa kali bertemu dengannya di rumah Paijo.

Jika, misalnya, kita bercerita tentang sebuah peristiwa atau pengalaman pribadi, sebelum kita sempat mengakhirinya Pak Sarwa pasti akan menyela, dan menindih cerita kita dengan cerita atau pengalaman tentang dirinya. Pendeknya, apa pun yang akan kita ceritakan dan telah kita alami, Pak Sarwa pasti akan mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang mengalami dalam cerita kita, dalam pengalaman kita. Ketika aku bercerita tentang bisnis baruku, misalnya, ia akan menyela dan kemudian bercerita panjang lebar tentang usahanya sendiri. Ketika aku bercerita tentang penulisan cerita pendek atau puisi, misalnya, ia juga akan mendongeng tentang puisi-puisi dan cerita pendeknya yang pernah dimuat entah di mana. Ketika aku bercerita tentang pacar gelapku pun, Pak Sarwa langsung menyela dengan berbagai kisah tentang sekian banyak perempuan yang terus mengejarnya. Ketika aku bercerita tentang sejumlah kawan paranormalku, ia langsung menyela dengan sekian dongeng tentang pengalaman-pengalaman mistik dan kemampuan supranatural yang pernah dimilikinya. “Dengan hanya lambaian tangan, seekor cecak jatuh menggelepar,” katanya. Dan ketika aku kehabisan cerita, ia masih saja terus nyerocos mendongeng dan mendongeng.

“Saya terkadang sebal dan muak. Tiap hari ia datang, dan selalu membawa cerita yang baru yang saya tak pernah bisa tahu kebenaran ceritanya,” Paijo suatu hari mengeluh ketika aku bertandang pada suatu sore.

“Lo, memangnya kenapa?”

“Ya… tiap hari ke sini, tapi bawaannya gombal melulu.”

“Kamu jangan senewen, Jo. Itulah humor Tuhan.”

“Tapi kalau ceritanya gombal melulu, lama-lama bisa rusak telingaku.”

Tinggalkan Balasan