“Jo, sejujurnya, kita sebenarnya memerlukan lebih banyak orang seperti Pak Sarwa itu.”
“Lo, kok?”

“Iya. Sekarang ini semua orang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri, dengan kepentingannya sendiri-sendiri. Hingga, jika tanpa kepentingan, jika tidak dengan kepentingan yang jelas, kita hampir tak bisa lagi menemui seseorang. Bayangkan, aku pernah menelepon seorang kawan lama, dan harus melalui sekretarisnya. Ketika aku tidak menjelaskan apa urusan dan kepentinganku, dan hanya kukatakan bahwa aku cuma ingin mengobrol dengannya, si sekretaris bilang bosnya tak ada waktu. Lagi sibuk.”
“Ya memang zamannya seperti ini.”
“Ya, tapi bukankah kita tetap memerlukan ruang kosong untuk hidup. Kita tetap butuh seorang teman yang tanpa pretensi, teman yang tanpa kepentingan, tanpa urusan. Kamu tahu, Jo, rasanya aku tersiksa karena sudah lebih dari tujuh bulan tak pernah terlibat obrolan dengan siapa pun. Obrolan tentang apa saja, di luar urusan kerja, di luar ambisi pribadi. Aku butuh obrolan, yang meskipun gombal, tapi bisa membuat tawa meledak-ledak. Sejujurnya, kita butuh lebih banyak tertawa.”
“Ya kalau begitu tiap hari ke sini saja, bisa bertemu Pak Sarwa.”
“Kenapa tidak? Aku, kan, cuma butuh tertawa.”
***
Hari itu adalah sebuah siang yang terik. Angin yang bertiup kencang pun tak mampu menepis terik matahari yang menyengat. Dan duduk-duduk di rumah Paijo yang terasa sempit tentu hawa gerah kian mengimpit. Kerongkongan juga terasa kian kering karena di rumah Paijo tak tersedia minuman dingin. Paijo malah menyuguhi segelas kopi panas. Tapi beban hidup memang bisa terbawa terbang oleh deraian tawa yang lepas. Obrolan kami, aku dan Paijo, terhenti ketika ada sebuah sepeda motor membelok ke halaman. Pak Sarwa tak pernah absen.
Seperti biasa, ia memarkir sepeda motornya dengan gegas, lalu melangkah cepat masuk rumah. Paijo segera beranjak berdiri karena sedari tadi duduk pada kursi yang biasa diduduki Pak Sarwa. Paijo pindah ke kursi lain di sebelahku, dan aku menyilakan Pak Sarwa duduk pada kursi yang biasa didudukinya. Dengan gerakan yang ringan dan gegas, ia menurunkan tas hitam dari pundaknya, lalu menaruhnya pada meja bundar. Kemudian kaca mata hitamnya diletakkan di sebelah tasnya. Ia melempar pantatnya pada kursinya, bersandar, dan menghela napas panjang-panjang. Ia lalu diam sejenak, menerawang dengan mimik kaku. Kami, aku dan Paijo, hanya menunggu dalam diam. Tak lama kemudian Pak Sarwa mengeluarkan sebungkus sigaret dari saku bajunya yang basah oleh peluh, dan ditaruhnya di meja. Setengah berdiri, ia merogoh sakunya yang kanan, dan mengeluarkan selembar sapu tangan. Setelah mengelap peluh yang membasahi wajah dan batang lehernya, masih dalam diam ia menyulut sebatang rokok. Ia mengembuskan asapnya ke atas, dengan bibir dimoncongkan, dengan muka ditekuk.
Kami terus membisu. Menunggu dalam diam.
“Ha-ha-ha…”
Kami tersentak karena tanpa didahului perubahan ekspresi atau raut muka tiba-tiba tawa Pak Sarwa meledak, tersembut-sembur. Tapi meskipun pada mulanya terkejut, kami akhirnya ikut ngakak juga walau Pak Sarwa belum memulai kata-katanya.
“Ha-ha-ha… kamu tahu, Jo,” suara Pak Sarwa menghentikan tawa kami. “Ketika di gedung kesenian tadi, aku baru tahu bahwa selama ini aku memiliki kemampuan dan bakat mendongeng yang luar biasa. Dan selama ini aku tidak pernah menyadarinya.”
“Apa itu, Pak Sarwa?” sela Paijo.
“Ha-ha-ha… kamu tahu, Jo, ternyata aku punya kemampuan bicara yang luar biasa, punya bakat jadi tukang cerita yang mengesankan, punya bakat jadi tukang dongeng yang hebat! Itu aku warisi dari nenekku.”
“Ha-ha-ha…” langsung saja tawa kami bertiga tersembur ke mana-mana, meledak membahana sampai ke dinding-dinding tempat sekian banyak lukisan koleksi Paijo bergelantungan. Terasa, dinding-dinding itu bergetar. Lukisan-lukisan yang bergelantungan bergoyang. Dan sejenak Paijo pun lupa pada kekayaan yang dimilikinya, juga pada kesulitan yang membelitnya.
