Tidak dinyana, sekonyong-konyong semilir angin membelai tubuh mereka menjadikan si burung betina berkata, “Apakah Dia senang dengan pujian kita, hingga seketika menggiring angin ke arah kita?”
“Ya, dan semoga Dia menerima pujian kita…”

“Amin!” seru mereka serempak penuh harap.
Kemudian sambil mereka terus memandangi pergantian aneka warna cakrawala itu, si burung betina melanjutkan tanggapannya, “Saya rasa kelembutan-Nya pun berlaku dalam mengatur pergantian waktu. Bukankah tadi masih siang saat kita datang ke sini, lalu secara perlahan-lahan sore menggeser siang, dan kini senja mulai menggeser sore secara perlahan-lahan hingga-hingga seakan-akan kita tidak merasakan pergantiannya?”
Setelah berhenti sejenak untuk menghela napas sembari memperhatikan pasangannya itu menyimak dengan saksama, ia melanjutkan, “Memang di satu sisi kelembutan pergantian antar waktu menjadikan kita nyaman—tidak kaget—dalam mengalami perputarannya. Namun di sisi lain, apabila kita terlena, bukankah menjadikan kita kerap merasa bahwa betapa cepat waktu berlalu?”
“Makanya,” jawab si burung jantan dengan penuh kasih sayang, “kita harus memanfaatkan waktu yang dianugerahkan oleh Gusti Allah Ta’ala kepada kita sebaik-baiknya. Ngomong-ngomong selama ini amal apa saja yang pernah sampean lakukan?”
“Alhamdulillah, sejak kecil saat masih bersama orang tua saya hingga hidup bersama sampean, Gusti Allah Ta’ala selalu memberi saya kesempatan dan kekuatan beribadah memuji-Nya terutama di setiap sore menjelang petang dan setiap malam menjelang pagi. Selain itu bukankah kita telah merawat dan mendidik anak kita dengan baik—menjadikannya seekor burung baik yang taat beribadah kepada-Nya dan suka menolong sesama burung hingga bahkan sekali waktu pernah menolong seorang manusia?”
Setelah burung jantan itu mengiyakan, secara bersamaan sekonyong-konyong mereka terkenang cerita anak mereka yang kini menjadi cerita mashyur di kalangan para burung.
