Guru dan Gen Z

Ini Bukan sekadar angka. Fakta ini merupakan cerminan dari berbagai permasalahan yang mendalam dan kompleks.

Kenapa mereka, para mahasiswa Gen Z, tak berminat menjadi guru? Mahasiswa yang saya wawancarai mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap realita profesi guru yang jauh dari ekspektasi.  Mereka menginginkan perubahan nyata,  bukan hanya janji-janji semata. Temuan ini mendesak adanya intervensi segera untuk mengubah persepsi dan meningkatkan daya tarik profesi guru bagi generasi muda.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Salah satu faktor utama yang menyebabkan rendahnya minat mereka terhadap profesi guru adalah persepsi negatif terhadap profesi ini. Di era digital yang serba cepat dan dinamis, profesi guru seringkali dianggap kurang menarik,  kurang bergengsi,  bahkan “tidak keren.”

Bayangan tentang guru adalah sosok yang hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran secara monoton, dengan metode pengajaran yang konvensional dan kurang inovatif, tidak lagi menarik bagi generasi yang akrab dengan teknologi dan informasi instan. Sementara, mereka sudah terbiasa dengan pembelajaran yang interaktif,  kreatif, dan berbasis teknologi, sehingga sistem pendidikan yang masih mengandalkan metode lama terasa membosankan dan ketinggalan zaman.

Padahal, kenyataannya, mengajar bukanlah sekadar menyampaikan informasi; itu adalah proses yang kompleks, melibatkan transfer pengetahuan, pembentukan karakter, dan pembangunan relasi emosional yang mendalam dengan siswa—aspek-aspek yang tak dapat digantikan oleh teknologi. Dan guru yang ideal adalah fasilitator pembelajaran, motivator, dan mentor yang mampu menginspirasi dan membimbing siswa untuk mencapai potensi terbaik mereka.

Karena itulah, persepsi tentang guru di kalangan Gen Z perlu diubah, dan citra guru sebagai profesi yang inspiratif dan berdampak besar perlu dibangun kembali.

Alasan lainnya yakni terkait faktor ekonomi. Upah guru, terutama bagi guru honorer, masih relatif rendah dan tidak sebanding dengan beban kerja dan tanggung jawab yang diemban.

Anggapan bahwa mengajar adalah pekerjaan yang mudah semakin memperparah situasi ini. Generasi Z, yang cenderung pragmatis dalam memilih karier, akan cenderung menghindari profesi yang tidak menjanjikan kesejahteraan finansial yang memadai.

Ketidakmampuan guru untuk memenuhi kebutuhan hidup layak, termasuk biaya pendidikan anak sendiri, menjadi penghalang bagi calon guru muda.

Tinggalkan Balasan