Kondisi ini diperburuk oleh kompleksitas sistem penggajian dan tunjangan yang seringkali tidak transparan dan rumit. Ketidakpastian finansial ini membuat profesi guru kurang menarik bagi generasi yang mementingkan stabilitas dan kepastian ekonomi. Lebih jauh lagi, kesenjangan upah antara guru dan profesi lain yang dianggap lebih “bergengsi” semakin memperkuat persepsi ini.
Tal hanya itu, bahkan sistem pendidikan Indonesia juga turut mempengaruhi persepsi Gen Z terhadap dunia pendidikan. Misalnya, pergantian kurikulum yang seringkali terjadi yang dianggap menciptakan ketidakpastian dan kesulitan dalam implementasinya.

Tekanan akademik yang tinggi, baik pada siswa maupun guru, dianggap menciptakan lingkungan kurang kondusif bagi perkembangan profesional guru dan minat generasi muda untuk bergabung dalam dunia pendidikan. Dan ketidakjelasan jalur karier dan pengembangan profesional guru juga menjadi faktor penghambat.
Rupanya, kurangnya apresiasi dari masyarakat juga menjadi faktor tak kalah penting. Gen Z, yang sangat menghargai pengakuan dan penghargaan atas kontribusi mereka, akan cenderung memilih karier yang memberikan apresiasi yang lebih memadai.
Rendahnya penghargaan terhadap profesi guru di masyarakat menciptakan citra negatif yang membuat generasi muda enggan memilihnya. Guru seringkali dianggap sebagai profesi yang kurang terhormat, dengan upah yang rendah dan beban kerja yang berat. Hal ini diperparah oleh kurangnya dukungan dari pemerintah dan masyarakat dalam upaya meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru.
Saya sendiri merupakan mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Dalam pembelajaran, saya kerap kali mendapati pertanyaan mengenai perencanaan karier pasca-studi. Mirisnya , meskipun berada di lingkungan akademik yang erat kaitannya dengan profesi kependidikan, sebagian besar rekan sejawat saya menyatakan kurang tertarik untuk menjadi guru. Beberapa di antaranya mengungkapkan bahwa beban kerja yang tinggi tidak sebanding dengan imbalan yang diterima.
Sebagai kesimpulan, rendahnya minat Gen Z terhadap profesi guru merupakan masalah kompleks yang disebabkan oleh kombinasi faktor ekonomi, sistem pendidikan, apresiasi sosial, dan keseimbangan hidup. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk mengatasi tantangan ini melalui berbagai strategi yang komprehensif. Peningkatan kesejahteraan guru, inovasi dalam sistem pendidikan, peningkatan apresiasi sosial, dan penciptaan lingkungan kerja yang lebih mendukung keseimbangan hidup merupakan langkah-langkah penting yang perlu segera diambil untuk memastikan tersedianya guru-guru berkualitas yang mampu membimbing generasi penerus bangsa.
Hanya dengan demikian, Indonesia dapat mewujudkan visi pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan, dan memastikan bahwa profesi guru kembali menjadi pilihan karier yang menarik dan prestisius bagi generasi muda dari orang-orang terbaik.
