Menjadi wartawan memang salah satu keinginan saya. Tapi, secepat seperti yang dititahkan Pak Nizar, rasanya belum saatnya, dan belum tentu terwujud juga. Sebab, saat itu saya baru lulus ujian skripsi. Masih harus menunggu beberapa lama lagi untuk bisa ikut wisuda dan mengantungi ijazah. Maka, ketika itu saya menjawab, “Bagaimana bisa, saya belum punya ijazah.”
“Gampang, saya buatkan surat keterangan lulus, yang bisa digunakan sebagai ijazah sementara,” jawab Pak Nizar, enteng. Saat itu juga surat keterangan lulus itu dibuat. Dan, anehnya, meskipun sifatnya sebagai ijazah sementara, tak ada tanggal masa berlakunya di situ. Akhirnya, “surat sakti” itu nantinya saya gunakan untuk berbagai keperluan, hingga saya merasa tak perlu memegang ijazah aslinya. Ijazah aslinya baru saya ambil sekitar 15 tahun kemudian.

Setelah mengantungi “surat sakti” itu, Pak Nizar mengutus saya untuk menemui seseorang. Orang yang dimaksud adalah Abdul Halim Mahfudz, salah satu redaktur Surya yang pernah ngepos di Washington DC, Amerika Serikat (AS). “Kamu temui Iim,” kata Pak Nizar. Bertahun-tahun kemudian, saya baru tahu kalau Abdul Halim Mahfudz adalah seorang gus: Gus Iim. Entah apa relasi keduanya, saya alpa menanyakannya, hingga kini.
Bersama seorang teman, saya berangkat ke Surabaya. Melalui percakapan telepon, oleh Gus Iim saya tak diarahkan menemuinya di Kantor Surya, tapi di Konsulat Jenderal (Konjen) Kedutaan Besar AS di Surabaya. Rupanya, selain di Harian Surya, Gus Iim juga bekerja di sana. Dalam pertemuan itu, Gus Iim akan memfasilitasi saya untuk menjadi jurnalis di Surya. Namun, karena persoalan teknis, akhirnya saya batal memasuki pintu yang dibukakan oleh Gus Iim. Sebagai gantinya, Gus Iim sempat mengarahkan saya untuk sementara waktu magang di Majalah Aula, penerbitan milik Nahdlatul Ulama (NU), yang saat itu redaktur pelaksananya adalah Ghozi DZ. Namun, bagi saya ketika itu, Aula tak cocok untuk penyaluran “gejolak muda”.
Saya akhirnya benar-benar memasuki dunia kewartawanan, tapi melalui pintu yang berbeda. Sampai lebih dari dua dekade menekuni dunia kewartawanan dan kepenulisan, berpindah-pindah media dan kota, saya masih belum bisa menemukan “benang merah” kenapa Pak Nizar mendorong-dorong saya menjadi wartawan sampai dipertemukan dengan Gus Iim. Meskipun, mungkin, isyarat itu sesekali muncul. Misalnya, ketika sudah berpindah ke Bali, tanpa disengaja saya bertemu Gus Iim, yang saat itu sudah bekerja di perusahaan asing. Pun, ketika hijrah ke Jakarta, sependek ingatan saya, saya pernah janjian untuk bertemu dengan Gus Iim. Tapi entah kelanjutannya.
Bahkan, sampai pada 2019 ketika jejaring duniasantri dan situs web www.duniasantri.co lahir, pun kenangan saya akan benang merahnya dengan Pak Nizar masih kabur. Saya hanya sempat bercerita kepada seorang teman di duniasantri begini: saya memang pernah nyantri, baik semasa SMA maupun saat kuliah. Tapi, sejak menekuni dunia jurnalistik, saya nyaris tak pernah berelasi dengan lingkungan pesantren. Tak pernah berkunjung ke pesantren. Nyaris tak pernah sowan ke kiai. Kok, tiba-tiba sekarang ikut mendirikan jejaring duniasantri, berurusan dengan santri dari berbagai pondok pesantren. Ada rahasia apa ini? Pertanyaan tersebut terus menggantung begitu lama.
Namun, ingatan saya akan Pak Nizar tiba-tiba muncul kembali saat jejaring duniasantri sedang menyiapkan agenda perayaan ulang tahunnya yang ke-6 di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, akhir Agustus 2025. Saya sedang memeriksa dokumen-dokumen surat yang disiapkan panitia, ketika mata saya tersedot saat mengeja nama pengasuh Pesantren Tebuireng: KH Abdul Hakim Mahfudz, yang kadung popular dengan nama panggilan Gus Kikin.
