Tak terasa, tadi malam menjadi malam yang begitu panjang. Waktu maju-mundur begitu liar. Mundur ke masa lampau yang begitu jauh. Lalu bergerak maju, sampai ke masa-masa setelah kini, untuk melacak jejak dan pesan yang sambung-menyambung.
Meja persegi panjang itu pun begitu riuh ketika jejak dan pesan-pesan tumpah di sana. Rupanya, duduk melingkari meja persegi panjang itu, bukan hanya kami berempat: Jamal D Rahman, Mahwi Air Tawar, Chandra Wijaya, dan saya. Para guru dari banyak waktu rupanya tak membiarkan kami mengobrol sendirian. Mereka ikut memenuhi ruang-ruang obrolan kami.

Obrolan yang membuat malam terasa menjadi begitu panjang itu bermula dari mimpi. Terpantik dari beberapa mimpi yang saya alami.
Tadi malam itu, sesungguhnya niat kami hanya mengobrol secara random. Sehari sebelumnya, saya bilang ke Mahwi Air Tawar, saya ingin mengobrol dengan Jamal D Rahman. Selama ini saya belum pernah mengobrol secara intim dengannya. Akhirnya kami bersepakat untuk silaturahmi ke rumah Kang Jamal, sapaan sastrawan sohor itu. Kami mengajak serta Chandra, teman kongko.
