Selepas dari Pondok Pesantren Babussalam, Gus Dhofir melanjutkan mondok ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Menyudahi mondok di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Gus Dhofir melanjutkan mondok di pondok yang masyhur di Jawa Tengah, yakni Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati.
Dari Kajen ini Gus Dhofir banyak belajar dan mendalami ilmu ushuluddin. Mengingat cakrawala Pondok Pesantren Maslakul Huda, atau Pondok Kajen, lekat dengan kajian salafnya, bahkan salah satu masyayikh atau tokohnya adalah KH Sahal Mahfudz, yang semuanya mafhum dengan keahliannya pada bidang fikih dan ushul fikih.

Setelah menyelesaikan pengembaraan mondoknya, Gus Dhofir mulai menginjakkan kaki belajar di universitas, baik dalam negeri maupun luar negeri, mengikuti pembelajaran modern. Di antaranya, Gus Dhofir kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara Jakarta, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dan Universitas Islam Asy-Syafi’iyah Jakarta.
Dari kuliahnya di dalam negeri ini, Gus Dhofir sudah mulai menekuni dunia filsafat dan sains, yang mana hal ini akan turut serta menjadi konsentrasinya dalam kajian dakwah. Setelah pindah-pindah kuliah di dalam negeri, Gus Dhofir melanjutkan kuliah di Malaysia, tepatnya di Universiti Malaya, salah satu universitas terbaik di Malaysia, kira-kira seperti Universitas Indonesia kalau di kancah nasional. Selepas dari Universitas Malaya, Gus Dhofir mengkhatami kuliahnya (2005) di University Queensland, Australia. Dari rangkaian kuliah di luar negeri ini, menambah kemafhuman, atensi, maupun konsentrasi kajiannya pada filsafat dan sains.
Dari pengembaraan belajarnya, dapat dipahami kalau Gus Dhofir adalah pribadi yang bebas, selalu ingin tahu, dan selalu ingin menambah wawasan. Beberapa pengalaman atau kiprahnya di kancah internasional adalah, mengadakan program kerja bersama pelajar muslim se-Asia ke Luzon dan Mindanao, Filipina, menghadiri interfaith dialoge di Brunai Darussalam, mengikuti program penanggulangan korban penyalahgunaan narkoba di Srilanka, mengikuti Training Workhsop on Enhanching Life Skills For Pesantren-Based Drug Prevention yang diadakan oleh Bureau for International Narcotics and Law Eforcement Affairs (INL) US Departement of State, Amerika Serikat, mengikuti Mu’tamar ad-Dauli Lil Ulama’ wa -Mutsaqqafin al-Muslimin (Pertemuan Sufi dan Ilmuan Muslim se-Dunia), pernah juga diundang sebagai tamu kehormatan pada Frankfrurt Book Fair, tahun 2015 di Jerman.
Pada 2010, Gus Dhofir mendirikan Pondok Pesantren Luhur Baitul Hikmah dan Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al-Farabi, Kepanjen, Malang. Di saat yang sama, Gus Dhofir juga merangkap sebagai pengasuh pondok pesantren dan ketua lembaga perguruan tinggi tersebut. Lembaga pembelajaran tersebut memiliki visi untuk mencetak lulusan yang religius dan intelektual. Dari sisi pesantrennya, secara khusus tidak ada perbedaan dengan pondok pesantren lainya, yakni berhaluan ahlussunah wal jamaah, yang menjaga tradisi kajian kitab salaf. Sedangkan dari sisi STF Al-Farabi, adalah satu-satunya (pionir) sekolah tinggi khusus filsafat pada waktu itu, khususnya di Malang. Nama sekolah tinggi tersebut terinspirasi dari nama tokoh filsuf, sekaligus penemu alat musik keyboard: Abu Nasr Ibn Muhammad ibn Tarkhan Ibn Auzalagh Al-Farabi.
Kedua lembaga pembelajaran tersebut memiliki tonjolan pada konsentrasi kajiannya, yakni filsafat, ilmu kalam, dan tasawuf, mengikuti muasis dari Pondok Pesantren Baitul Hikmah dan STF Al-Farabi yang memiliki keahlian pada ranah tersebut. Ketika pesantren secara umum menolak atau menjauhi filsafat dan ilmu kalam dengan alasan potensi merusak akidah, maka lembaga tersebut berusaha “meluruskan” dan “mengajak” kedua term tersebut untuk ambil bagian dalam kajian keislaman.
Kalau dalam bahasa Gus Dhofir: semua rumpun ilmu itu ada karena filsafat. Dengan kata lain, menolak filsafat berarti menolak akal sehat. Alhasil, cakrawala diskusi, selain ngaji, di pesantren sangat hangat dan meriuhkan, mulai dari tema-tema sosial, budaya, hingga politik.

One Reply to “Gus Dhofir Zuhry, Kiai Muda yang Produktif”