Gus Dhofir Zuhry, Kiai Muda yang Produktif

Dari sisi organisasi, Gus Dhofir masuk dalam pengurus Dewan Kesenian Kabupaten Malang, Pengurus Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Malang, anggota Lembaga Sensor Film Indonesia Malang, anggota Masyarakat Filsuf se-Dunia di Rheinische Freidrich-Wilhems-Universitat Bonn, Jerman, anggota ilmuan muda se-Dunia di Johann Wolfgang Goethe-Universitat Frankfurt am Main, Jerman. Sering juga menjadi pembicara dalam seminar baik di lembaga negeri maupun swasta.

Kiai yang Produktif

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam hemat penulis yang pendek, dari sudut pengabdian masyarakat, Gus Dhofir setidaknya memiliki dua sudut pandang, yakni sebagai ulama (kiai) dan sebagai pimpinan lembaga perguruan tinggi. Dua sudut pandang ini sebenarnya tidak berbeda jauh visinya (menyampaikan ilmu, mengajar, maupun merawat masyarakat). Jikapun berasumsi, biasanya kiai lebih cenderung informal, apalagi kiai muda, sedangkan kepala lembaga, apalagi pimpinan perguruan tinggi lebih cenderung formal. Akan tetapi, Gus Dhofir hadir dengan sikap yang kasual, santai, namun tetap berbobot, alhasil baik akademisi, santri, maupun masyarakat umum tetap merasa dekat tanpa ada sekat yang menghalanginya.

Pembawaan tersebut dilatarbelakangi oleh khazanah santri yang kental dan cakrawala filsafat yang ada pada diri Gus Dhofir. Khazanah santri dan cakrawala filsafat tersebut juga mempengaruhi konsentrasi pemikiran dan produktivitasnya. Hal ini tentunya dapat dilacak dalam produktivitasnya di media sosial dengan unggahan-unggahan dan narasinya, sekaligus dalam berbagai publikasi (penerbitan) buku yang ditulisnya.

Salah satu buku yang ditulis dan diperbincangkan banyak kalangan adalah Peradaban Sarung; Veni; Vidi; Santri (2018) yang menjadi salah satu buku best seller tahun 2019. Ada juga bukunya yang berjudul Nabi Muhammad Bukan Orang Arab? (2020), yang dijadikan objek kajian skripsi Rama Indra, mahasiswa Pendidikan Agama Islam, UIN Sunan Ampel, pada tahun lalu (2021). Hal ini secara tidak langsung menunjukkan, hasil-hasil produktivitasnya memiliki nilai unik dan bobot tersendiri.

Adapun, beberapa karyanya yang telah terbit (tidak termasuk artikel-artikel ringan di media massa), yakni: Gereja Di Padang Mahsyar (2003), Tersesat di Jalan Yang Benar (2007), Terjemah Shalawat Haji: Tahni’ah Li Quduni Hujjaj Bayt al-Haram (2005), Tafsir az-Zuhry Vok. I (2005), A’malul Yaumiyah (2010), Para Nabi dalam Botol Anggur (2011), Barisan Hujan (2013), Membangun Negara Hukum yang Bermartabat (2014), Presiden (2012), Mencangkul di Yunani (2012), Filsafat Islam (2013), Terjemah Risalah Ladunniyah Al-Ghazali (2015), Matahari Tumbuh Dari Senyummu (2013), Memanusiakan Manusia (2009), Filsafat Timur: Sebuah Pergulatan Menuju Manusia Paripurna (2011), Filsafat Untuk Pemalas (2016), dan Kondom Gergaji (2018).

Sedangkan, di media sosial, selain di akun media sosial Gus Dhofir yang sudah disebutkan (Instagram, FB, Youtube), secara khusus, Gus Dhofir juga mengampu kajian tafsir tematik tiap Ahad sore di kanal Youtube NU Online. Tema-Tema yang dikaji pun menarik, kaitannya dengan kritisnya terhadap problem kebangsaan dan keagamaan yang sudah disinggung.

Terbaru, Gus Dhofir mengkaji tema “Puasa Tapi Tidur Seharian?” Di antara tema-tema yang pernah dikaji adalah polemik pria tendang sesajen di Gunung Semeru, kerjakan doamu, doakan kerjamu, apa fungsi manusia dan masih banyak lainya. Total ada 138 unggahan video kajian. Jika dicermati seksama, Gus Dhofir juga memiliki atensi pada kajian gender, ulumul quran, sosiologi-antropologi, dan linguistik. Hal ini bisa ditegaskan oleh pondasi ilmu ushuluddin waktu mondok dan filsafat yang sudah mengakar pada diri Gus Dhofir. Wallahu A’lam.

One Reply to “Gus Dhofir Zuhry, Kiai Muda yang Produktif”

Tinggalkan Balasan