Sudah barangtentu, sebagai tetangga, kakek itu pastilah melayat. Pada akhirnya, ia melangkah menghampiri, dan bergabung di antara ribuan pelayat serba putih itu. Istrinya masuk ke dalam rumah.
Gema suara kalimat tauhid bersaut-saut, menggema di desa kecil itu. Siapa orang yang mendengar, pastilah heran, sebab, di desa kecil itu sekalipun tak pernah ada pengajian-pengajian besar digelar. Desa yang sebelumnya sepi, hari itu bergema suara sedemikian keras. Apalagi bukan dangdut, tapi suara kalimat tauhid.

Masih terheran, kakek itu clingak-clinguk ke kanan dan ke kiri, namun tak satupun di antara ribuan orang itu dikenalnya. Semua pelayat nampak asing di matanya. Ia merasa gamang. Yang lebih mengherankan lagi, tak ia jumpai satu di antara pelayat-pelayat itu berbicara. Semuanya terlihat khusyuk.
****
Gus Din tidaklah menikah. Pernah satu kali ia mencintai wanita, putri Kiai Masduqi, tapi setelah tahu bahwa Ning Shofi menikah dengan Gus Jamal, putra Kiai Ahmad, sampai sekarang, tak pernah ia dekat dengan wanita lagi.
Suatu ketika, Abahnya menjodohkan dengan Ning Syahidah, putri Kiai Dahlan, tapi ia menolak keras tawaran Abahnya. Beberapa kali abahnya, Kiai Muhammadun, membujuknya agar mau, tapi tetap bersikukuh tak mau. “Umurmu sudahlah matang untuk menikah, Din. Menikahlah,” begitu kata abahnya. Di antara kelima saudaranya, hanya Gus Din yang belum menikah.
Sedari kecil, Gus Din juga tidak mau mondok, tidak seperti kelima saudaranya. Hal itu membuat Abah dan Umminya geram. Sempat ia dipaksa mondok di daerah Yogyakarta, tapi seminggu setelahnya, pengasuh pondok tersebut menelepon Kiai Muhammadun dan mengabari bahwa Gus Din tidak di pondok lagi. Mendengar kabar itu, Kiai Muhammadun menyuruh salah seorang santri, Mahmud, agar mencari Gus Din. Layaknya seorang santri yang harus patuh pada kiainya, maka Mahmud pun demikian.
“Cari Fahruddin sampai ketemu!” perintah Kiai Muhammadun pada Mahmud.
“Injih, Yai.”
Dengan langkah mundur ke belakang dan beringsut-ringsut, Mahmud menjauh dari Kiai Muhammadun, lalu keluar dari gerbang pondok pesantren hanya berbekal keyakinan. Namun apa guna keyakinan tanpa tujuan?
Sesampainya di depan gerbang pondok, tak tahu Mahmud akan bagaimana. Dalam kebingungan itu, Mahmud ingat Umar, teman sekamarnya yang menjadi pelayan di ndalem Kiai Muhammadun, pernah mengatakan bahwa Gus Din mondok di Yogyakarta, di Bantul. Ia pun menumpangi bus untuk ke Bantul.
Sampai terminal Giwangan, macam membalik telapak tangan, tak sengaja Mahmud menemukan Gus Din yang sedang merokok di kursi halte. Tanpa ba-bi-bu, ia menghampiri Gus Din, menundukkan kepala dan bersalaman. Gus Din tak tahu siapa Mahmud.
“Saya santrinya Abah, Gus, diperintah untuk menjemput dan mengajakmu pulang ke ndalem.”
Keduanya lalu pulang. Mahmud mengantarkan Gus Din sampai di depan ndalem. Kiai Muhammadun keluar.
“Terima kasih, Kang.”
