“Injih, Yai.”
Sementara Gus Din langsung masuk ke dalam. Kiai Muhammadun kembali ke dalam rumah setelah mengatakan “terima kasih” kepada Mahmud. Tidak ada Gus Din di ruang tamu. Ia menuju kamar Gus Din.

“Jangan malu-maluin Abah, Din!” bentaknya.
Gus Din diam saja.
“Kenapa kamu keluar pondok?!”
“Gapapa, Bah,” jawabnya dengan wajah pucat.
“Mulai hari ini, aku serahkan semuanya kepadamu! Abah tak mau lagi mengaturmu!”
Gus Din keluar kamar, bersalaman dengan Abah. Abah kaget. Gus Din Lalu menghampiri Ummi, bersalaman juga. Setelah dirasa cukup, Gus Din keluar rumah, melewati gedung-gedung pesantren dengan dilihati banyak santri, gerbang pondok, dan entah. Ia belum menemukan rumah untuk tempatnya singgah.
Sebenarnya, Kiai Muhammadun tidaklah tega hati melihat Gus Din seperti itu. Tapi baginya, anak seumuran Gus Din tidaklah boleh dimanja. Hal itulah yang mendasarinya mengatakan seperti itu. Ia ingin mendidik Gus Din lebih mandiri.
***
Gus Din membangun sebuah gubuk di tanah yang bertuliskan “Tanah Ini Milik Yayasan Nurul Ummah” dengan bambu yang ia ambil di tanah itu. Dia yakin bahwa tanah itu pastilah milik Abahnya. Dan memang benar seperti itulah adanya.
Gus Din pun tinggal di gubuk itu seorang diri. Awal kemunculannya di tanah itu, tetangganya, Kakek Tua –yang enggan kusebut namanya– berburuk sangka, bahwa Gus Din telah mengambil alih pemilik tanah itu. Ia merasa tersaingi, karena sebenarnya, ia juga ingin memiliki tanah itu.
Setiap tengah malam Jumat dan malam Rabu, tanpa ada yang tahu, diam-diam Gus Din keluar dari gubuknya dengan membawa sekarung beras yang sudah dibungkus tiga kiloan. Ia membagi-bagikan bungkusan beras itu ke rumah-rumah fakir miskin. Begitu setiap malam. Entah, dari mana Gus Din mendapatkannya.
Suatu malam Jumat, ketika membagikan beras di salah satu rumah fakir miskin, tepat di depan rumah itu, tiba-tiba perut Gus Din terasa sakit. Dadanya sesak. Ditahannya rasa sakit itu agar sampai rumah. Ia tidak ingin diketahui kebaikan yang selama bertahun-bertahun telah ia lakukan.
Tapi apa yang diinginkan Gus Din tidak seperti yang diinginkan Tuhan, ia meninggal pada malam itu. Si fakir pemilik rumah mengantarkannya ke gubuknya. Di gubuk itu, seseorang berpakaian serba putih telah menanti jenazahnya.
