Akhirnya, untuk bertahan hidup, Gus Islah bekerja di sebuah restoran dengan tugas mencuci piring. Setelah memiliki cukup uang, dia memilih pindah ke California agar bisa tinggal bersama saudaranya. Untuk memperpanjang visanya, Gus Islah mencari lembaga pendidikan, dan bisa masuk Zaytuna Institut yang saat itu mahasiswanya baru 9 orang. Setelah terjadi serangan bom Menara Kembar pada 2021, visanya tak diperpanjang dan terpaksa Gus Islah kembali ke Tanah Air pada 2004.
Dicari Densus 88

Kesulitan hidup di negeri Paman Sam itu tak menyurutkan ghirah Gus Islah untuk mendalami banyak disiplin ilmu. Setidaknya, selama berada di AS, Gus Islah sudah melahap sekitar 2000 buku, terutama dalam bidang filsafat, filsafat Islam, dan sejarah Islam. Buku-buku yang dilahap datang dari berbagai periode dan bahasa. Mulai dari kitab-kitab klasik berbahasa Arab karya sarjana-sarjana muslim awal sampai terbitan modern berbahasa Inggris karya sarjana-sarjana non-Muslim.
Sayangnya, ketika berada di Tanah Air, Gus Islah sempat tersandung masalah hukum dan harus menjalani kurungan penjara selama 22 bulan. Rupanya, selama dalam penjara, Gus Islah semakin menggilai bacaan. Selama dalam penjara itu Gus Islah telah membaca 2000 buku, termasuk buku-buku filsafat non-Islam.
Dengan literatur yang demikian kaya dan beragam, setelah keluar dari penjara, Gus Islah mulai menuliskan pemikiran-pemikirannya, gagasan-gagasan atau ide-idenya melalui media sosial (medsos), di antaranya di Instagram, Facebook, dan Twitter. Selain itu, ia juga membuat video tentang kerusuhan-kerusuhan radikalisme dan tinjauan terorisme 2000-2009 yang diunggah di medsosnya. Tulisan-tulisan dan video-videonya yang diunggah di medsos itu didasari dari pengalaman saat mempelajari tentang radikalisme dan terorisme di beberapa negara konflik, seperti Afrika, India, dan Pakistan.
Selain itu, Gus Islah juga menulis buku, di antaranya Hak Asasi Manusia dalam Pandangan Nurcholish Madjid dan Intoleransi dan Radikalisme Kuda Troya Politik dan Agama. Karena tulisan-tulisannya itu, Gus Islah akhirnya dicari-cari Detasemen Khusus Antiteror 88 Kepolisian Indonesia. Gus Islah diminta semakin banyak membuat tulisan-tulisan dengan misi mengadang gerakan ekstremisme, radikalisme, dan terorisme. Bahkan, kemudian, Gus Islah diangkat menjadi tenaga ahli bidang Pencegahan Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme Markas Besar Kepolisian Indonesia.
Menantang Wahabisme
