Gus Islah, Penantang Wahabisme dari Madura

Beberapa tahun belakangan, Gus Islah yang juga menjadi Direktur Jaringan Islam Moderat ini jarang berada di rumah bersama keluarga. Waktunya lebih banyak dihabiskan di jalanan, mengunjungi berbagai daerah di seluruh Indonesia untuk memberikan pemahaman bahwa paham-paham yang penyebarannya dimotori kelompok Wahabi-Salafi adalah penyesatan dan penuh kebohongan.

Sekali waktu kita akan melihat Gus Islah berbicara, secara berapi-api, di depan murid-murid SMA di suatu daerah. Di lain waktu, ia terlihat memberikan presentasi di depan aparat kepolisian atau pemerintah. Sering pula Gus Islah berbicara lantang di depan kelompok-kelompok masyarakat yang beragam, atau dari layar televisi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di mana-mana, kapan saja, Gus Islah selalu berteriak dengan lantang bahwa sistem khilafah yang didengung-dengungkan sebagai sistem yang diciptakan oleh Allah atau didasarkan pada perintah Tuhan dan Nabinya adalah bohong belaka. Menurutnya, tak ada sistem khilafah pasca kenabian, dan Nabi Muhammad pun tidak meninggalkan sistem pemerintahan yang baku.

“Semua itu hanya akal-akalan yang dibuat oleh kelompok Khawarij yang diteruskan kelompok Wahabi-Salafi untuk berebut kekuasaan atas nama agama. Pengikut Wahabi-Salafi yang tidak percaya, ayo saya tantang berdebat untuk membuktikan kebenarannya,” demikian ungkapan yang sering dilantangkan Gus Islah di berbagai kesempatan.

Berdasarkan literatur klasik, kitab-kitab yang dikarang sarjana-sarjana muslim awal, Gus Islah memastikan bahwa dalam periode Khalifatur Rasyidin, yang berlaku adalah sistem musyawarah (syuro )—bagian dari demokrasi di era modern. Dan sistem itu sudah ada sejak zaman Romawi yang disebut res publica romana. Kemudian, di zaman Khalifah Dinasti Muawiyah, yang berlaku adalah sistem mamluk atau kerajaan. Sistem ini juga sudah ada ratusan tahun sebelum Islam lahir, yang disebut monarki absolut. Begitu pula di masa kekhalifahan Dinasti Abbasiyah yang menerapkan sistem ahlul halli wal aqdi. Sistem ini pernah diterapkan di Byzantium jauh sebelum Islam.

Jadi, di mata Gus Islah, khilafahisme tak lain sekadar perebutan politik kekuasaan dengan menunggangi agama. Gerakan ekstremisme, radikalisme, dan terorisme yang telah menjadi ideologi transnasional yang mendesakkan sistem khilafah ini, menurut Gus Islah, harus dilawan karena membahayakan keutuhan bangsa Indonesia.

“Ayo kita lawan gerakan mereka,” ajakan ini sering diteriakkannya di berbagai tempat, sesering ia menerima ancaman persekusi dan pembunuhan. Ia mengaku sudah mewakafkan hidupnya untuk menentang dan menantang gerakan yang disokong kelompok-kelompok Wahabi-Salafi ini.

Tinggalkan Balasan