Gus Jaka dan Mukidi (2)

“Boleh nanti aku menemanimu mengaji?”

“Maksudnya?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Aku ingin ikut ngaji juga pada Kiai Abdul Kohar. Nanti keperluanmu saat ngaji akan kubantu. Kucucikan bajumu. Dan kumasakkan makananmu,” Mukidi bersungguh-sungguh.

Gus Jaka bingung harus menjawab apa. Ia merasa tak pantas untuk dilayani oleh Lek Mukidi yang usianya jauh melampaui dirinya. Dia pun telah berpuluh-puluh tahun mengaji pada bapaknya.

“Rumahmu dimakan rayap nanti, Lek,” sahut Gus Jaka.

“Biarkan, Gus. Mereka juga butuh makan.”

“Tak malu kau sudah tua masih mau ngaji, Lek?” Gus Jaka berkelit.

“Tak apa-apa, Gus. Asal aku masih bisa mengabdi,” Mukidi semakin memelas.

“Bik Miskiyah akan nikah lagi jika tak segera kau datangi.”

“Ah, biarlah. Masih banyak yang lebih layak untuknya daripada aku.”

“Kau berputus asa, Lek.” Gus Jaka bingung.

“Aku tak ingin menghabiskan sisa umurku untuk mengabdi pada seorang wanita. Biarlah kuhabiskan umurku untuk mengabdi pada guru,” ucapan Mukidi semakin serius.

“Kenapa? Menikah juga bagian dari perintah agama, Lek Mukidi!” tegas Gus Jaka.

“Tapi tak menikah juga tak berdosa, Gus.”

Gus Jaka mulai jengah.

“Kau tahu Lek? Apa-apa yang diharamkan sebelum menikah bisa berubah jadi pahala karena pernikahan?”

“Maaf, Gus. Selama ini keinginanku untuk mengabdi sudah cukup membuatku merasa tenang. Kalau aku menikah, aku takut akan membuka keinginan-keinginan baru. Dan itu tidak tentu dapat kucapai. Ketenanganku akan pudar. Bisa-bisa aku lalai untuk berdekatan dengan-Nya.”

“Aku bukan gurumu, Lek Di! Jangan mengabdi padaku!” pekik Gus Jaka.

Mukidi terbengong.

“Aku pun ingin mengabdi pada kiai di sana!” Gus Jaka jengah.

“Kalau begitu kita sama-sama mengabdi, Gus,” Mukidi berkata lirih dengan bola mata membesar.

“Kenapa, wahai Lek Kidi?” lirih pula suara Gus Jaka.

“Maaf Gus. Almarhum Mbah Roji dulu memberitahuku cara untuk membuang gelisah yang kualami hari demi hari sebagai seorang santri yang banyak masalah.”

“Apa kata bapak?”

“Gelisahku karena banyak keinginan. Dan obatnya adalah mengurangi keinginan itu. Lalu aku mengabdi pada Kiai Roji untuk mengobati gelisah itu. Sekarang, aku takut gelisahku akan kambuh lagi jika obat itu tak ada lagi pada diriku. Biar kuhabiskan sisa hidupku ini untuk mengabdi pada orang yang Saleh, Gus.”

“Oalah, Lek. Padahal keinginan Bik Miskiyah adalah mendapat seorang suami sepertimu. Santri yang tidak neko-neko, sekaligus perjaka. Tapi kalau inginmu adalah mengabdi tanpa diganggu oleh seorang istri, aku tak ingin membangkitkan kegelisahanmu,” pungkas Gus Jaka.

Putra Kiai Roji yang rangkaian kata-katanya melampaui usia kanak-kanaknya itu kemudian berdiri, mengajak Mukidi untuk kembali meneruskan perjalanan.

“Jadi, apa benar ucapan Yu Mes itu, Gus?” bisik Mukidi dalam sanubari yang terpendam rapi.
Mukidi kembali mengayauh pedal. Membelah udara mengejar waktu sambil berusaha membuang resah. Sayang sekali bayang-bayang Yu Mes terus mengikuti putaran roda sepedanya. Kambuh lagi kah gelisahku? desisnya dalam hati.

Mentaraman, 8/10/20.

Tinggalkan Balasan