“Kenapa harus pindah?”
Anak kecil itu semakin tak mengerti dengan jalan pikiran orang yang sedang diajaknya bicara kali ini.

“Biar dapat ikanlah,” jawab Gus Jaka kemudian.
Lelaki itu kini terkial. Sebuah tawa yang mengusik benak.
“Kau tak ingin dapat banyak ikan?” Gus Jaka semakin penasaran.
“Tujuanku ke mari adalah mancing,” sahutnya.
“Tapi kau tak dapat ikan!”
“Siapa bilang mancing harus dapat ikan?”
Pertanyaan itu membuat Gus Jaka emosi. Meladeni orang aneh akan mengkerdilkan dirinya sendiri. Tapi, setelah helaan napas yang ketiga, ia dapat menemukan kebenaran ucapan orang itu. Urung dia untuk meninggalkannya mandi dan melepas hajat di sungai.
“Jadi, kau tak ingin dapat ikan? Hanya ingin mancing?”
Pertanyaan itu dijawab dengan anggukan kepala yang diiringi oleh kepulan asap rokok. Gus Jaka terbatuk. Pikirannya terusik.
“Bodoh sekali,” dengus Gus Jaka dalam hati. Ia jaga lidahnya kuat-kuat untuk tidak terpeleset mengucap kata itu.
“Justru perjalananmu ini adalah untuk mempelajari kebodohan ini.”
Gus Jaka tersentak dengan kalimat lelaki aneh di pinggir kali itu. Sepertinya dia dapat menerka bisik hatinya. Tapi ucapan lelaki itu terlalu sulit untuk ia pahami. Dan sayang sekali, rasa penasarannya tak bisa lagi dipuasi karena keinginannya untuk buang hajat semakin tak terkendali. Ia pamit undur diri dan kemudian kembali menyusuri sungai untuk mencari sudut tersembunyi.
Tak berapa lama kemudian Gus Jaka telah kembali. Namun saying, lelaki aneh itu tak lagi ia temui. Bahkan bau rokoknya pun telah raib. Pikirannya centang-perenang. Ia segera teringat pada Mukidi yang tertidur di bawah pohon jambu tadi. Mengingat perjalanannya masih jauh, kakinya segera bergegas menuju ke sana. Ternyata Mukidi masih terkapar di rerumputan. Mulutnya yang menganga mendesiskan suara mendayu, merayu seekor nyamuk betina untuk terbang memasukinya. Namun binatang kecil nan buas itu kembali terbang berbalik arah karena tak betah dengan bau yang keluar dari lubang mulut Mukidi.
“Bangun Lek Di!” pekik Gus Jaka. Khodamnya itu lantas tergeragap bangun.
“Aku di mana?” gumamnya.
“Di bawah pohon jambu kali,” bisik gus Jaka.
Mukidi pun bangun dan beranjak ke kali untuk mandi. Ketika Gus Jaka baru saja membentangkan sajadah, Mukidi kembali.
“Kau tahu kenapa aku cepat-cepat menuju kali, Gus?” ucap Mukidi polos.
“Kebelet,” sahut Gus Jaka.
“Salah. Aku mimpi. Sebuah mimpi yang seperti nyata,” desis Mukidi.
“Apa?”
“Aku bermimpi Yu Mes ada di kali. Memanggil-manggilku dengan penuh kelembutan. Ah, indah sekali.” Ucapan Mukidi dibalut senyum.
“Sayang sekali, Lek. Hidup tak seindah mimpi. Ayo lekas salat. Keburu malam nanti di Gedangan,” tegas Gus Jaka.
Usai salat mereka membuka bekal. Nasi tiwul lauk sayur rebung mereka lahap dengan cepat. Mukidi mengakhiri makan dengan sendawa panjang.
“Gus,” panggilnya.
“Hmm,” Gus Jaka menyahut.
“Gus Zakariya Al Anshari,” Mukidi memanggil nama lengkap putra gurunya itu.
“Ada apa, Lek?”
