Gus Jaka dan Mukidi

Di luar bangunan rumah sederhana itu malam telah kembali berselimut hujan. Suara mendentingnya ketika jatuh di atas genting atau menumbuk dedaunan menimbulkan suara riuh. Sesekali suara guntur menggelegar di langit. Sesekali pula cahaya kilat menerobos dinding rumahnya. Dinding yang terbuat dari bilah-bilah kayu jati itu tak mampu menahan kilatan cahaya yang begitu terang menerobos masuk. Gus Jaka menyelimuti tubuhnya dengan sarung lusuh peninggalan bapaknya. Berharap suara hujan yang telah sudi menemani malam yang sunyi itu akan segera mengantarkannya ke alam mimpi.

Ketika kedua matanya mulai berkesiut diterpa kantuk terdengarlah suara ketukan dari arah pintu.
“Ada apa Lek?” teriak Gus Jaka setelah membiarkan agak lama ketukan di pintu itu tak kunjung berhenti.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Terdengarlah suara berderit mirip kambing tercekik.

“Lho kok tahu kalau aku, Le?” bisik Mukidi seraya mendekati Gus Jaka yang meringkuk di amben ruang tamu.

Meskipun Mbah Syairozi merupakan sosok kiai dengan pengaruh luas di pesisir selatan itu, akan tetapi rumahnya cukup sederhana. Murid Kiai Saleh itu memang terkenal dengan sifat zuhud, tidak terlena oleh kemewahan. Bahkan dia memilih tak menikah lagi ketika ditinggal wafat istrinya. Padahal saat itu dia masih cukup muda. Kesenangan dunia seolah tak menarik lagi bagi hatinya.

“Bau rokok tingwe itu cukup menunjukkan siapa dirimu, Lek,” tukas Gus Jaka, masih dalam balutan sarung. Mukidi tertawa terkial, menyemburkan asap rokok serta menampakkan beberapa gigi yang telah tanggal.

“Kang-kang santri nggak ada yang ke sini?” tanya Mukidi.

“Nggak ada, Lek. Tak ada lagi yang dicari di sini. Mereka telah pulang setelah kenduri tadi,” sahut Gus Jaka.

“Nanti kamu akan dicari banyak orang, kamu akan dibutuhkan oleh umat. Pondok ini akan besar di tanganmu, Le.”

“Jangan sok jadi peramal, Lek. Lagi pula bapak sudah cukup berbahagia dengan pondok sederhana ini,” tangkis Gus Jaka.

“Jadilah orang besar, Le. Dengan begitu tanganmu akan kuat untuk membela yang lemah. Kiai-kiai langgar tak akan mati terbunuh PKI jika ada kekuatan yang membela. Contoh orang besar ya Kiai Dul itu. Jadilah seperti dia. Semakin rindang sebuah pohon, semakin banyak yang bisa berteduh di bawahnya.” Sembari menyemburkan asap tingwe Mukidi terus menyemburkan kata-kata.

“Wah. Sampeyan sudah cocok jadi badalnya bapak, Lek Di. Kata-katamu manis seperti air tebu,” tukas Gus Jaka sembari berguling ke kiri membelakangi pengasuhnya itu. Semenjak kecil Gus Jaka memang diasuh oleh Mukidi, santri sepuh bapaknya yang tak kunjung menemukan pasangan hidup.

“Gus,” panggil Mukidi dengan suara lirih. Gus Jaka tak menyahut. Ia telah terbiasa dengan tingkah orang tua yang konyol itu.

“Tadi siang bibimu itu terus bertanya tentang jodohku. Hmmm. Apa mungkin dia menyimpan suatu perasaan padaku? Seorang perempuan selalu punya caranya sendiri untuk menggapai hati lelaki, kan begitu, Gus?” tanya Mukidi yang kini tengah bertele di atas kursi kayu jati.

“Gus, bukankah seorang santri abdi ndalem sepertiku ini sering mendapat durian runtuh dalam perjalanan hidupnya? Bukankah Yu Mes sudah saatnya mengakhiri masa menjandanya?”

“Gus,” panggil Mukidi.

“Le!” Mukidi mengganti cara memanggil putra kiainya itu.

Dan betapa kecewanya Mukidi mendapati panggilannya ternyata dijawab dengan suara dengkuran oleh Gus Jaka. Mukidi lantas terdiam dalam lamunan. Malam-malam dingin masih akan terus menemani dan menyiksanya. Sarung di lehernya lantas ia selimutkan ke seluruh tubuh, berharap mimpi menyandingi Yu Mes akan menjadi nyata dalam tidur. Betapapun kokoh sebuah mimpi dibangun, ia tak akan pernah jadi nyata sebelum bisa tidur; begitu Mukidi berkeyakinan.

Tinggalkan Balasan