Rasisme dan Tuhan pun Mahabijak

“Wahai manusia, sesungguhnya Aku menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Q.S Al-Hujurat:13)

Tuhan Maha Rasis? Percik Pemikiran Duniasantri adalah buku kumpulan artikel dari duniasantri.co. Judul buku ini diambil dari salah satu judul artikel yang termuat di dalamnya. Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya. (Wikipedia)

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mahar Iskandar melalui artikel “Tuhan Maha Rasis?” ingin meluruskan bahwa rasis itu tidak ada dalam dogma agama mana pun. Ungkapan retorik dalam judul tersebut sebagai penegas dan keseriusan bahwa Allah sama sekali tidak memandang rendah terhadap perbedaan ras dan golongan.

Dari QS Al-Hujarat: 13 tersebut sudah sangat jelas bahwa Allah menciptakan manusia dalam berbagai etnik agar terjadi komunikasi yang baik di antara mereka (lita’aarofu; saling mengenal bukan saling mencekal). Sama halnya dengan ungkapan al-Quran “Afala ta’qilun? (apakah kamu tidak berakal?); Afala tatafakkarun? (apakah kamu tidak berpikir?); Hal yastawilladzina ya’lamuna walladzina la ya’lamun? (apakah sama orang yang mengerti dan tidak mengerti?); dan fabiayyi alaairobbikuma tikadzdziban? (maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?).

Sebagai artikel “terpilih” menjadi judul buku, Mahar Iskandar ingin membuktikan bahwa rasisme termasuk perbuatan munkar (menyalahi syariat). “Rasisme sendiri sebenarnya tidak akan pernah ada jika seluruh umat manusia bersikap sesuai uswah yang diajarkan Rasulullah dan mengimplementasikan pedoman hidup berlandaskan pada firman Allah dalam menjalani suratan kehidupan sehari-hari.” (hal. 348). Di dalam Islam tidak ada yang namanya rasis. Tetapi kesetaraan seluruh manusia sebagai representasi Tuhan menjadi khalifah di muka bumi merupakan sebuah keniscayaan.

Bisri Effendy dalam pengantar di buku ini menjelaskan bahwa rasisme bukan semata masalah George Floyd (tragedi kematian orang kulit hitam oleh orang kulit putih di AS), tetapi telah menjadi problem kemanusiaan dan politik kenegaraan yang tak berujung dan tak pernah selesai. “Rasis yang semula dipahami sebagai pandangan, sikap, dan perlakuan (dari stereotype, stigma, pelecehan, subordinasi, represi, hingga tindak kekerasan) terhadap kelompok berbeda secara biologis (race, warna kulit) di dalam kehidupan plural kemudian melebar ke hubungan sosial serupa antar berbeda etnis, agama, dan golongan.” (hal. vi).

Masih menurut Bisri Effendy, sebenarnya dalam syariat Islam masalah sosial ini (rasis) telah selesai. Rasulullah dengan tegas mengatakan,“La fadlla li’arobiyyin wala a’jamiyyin. Inna akromakum ‘indallahi atqakum (Tidak ada kelebihan bagi Arab dan non-Arab, sesungguhnya yang paling mulia bagi kamu adalah yang paling bertakwa).” Hadits ini jelas menegaskan bahwa manusia dengan segala etnisnya dipandang sama di hadapan hukum Allah.

Rasialisme adalah suatu penekanan pada ras atau pertimbangan rasial. Kadang istilah ini merujuk pada suatu kepercayaan adanya dan pentingnya kategori rasial. Dalam ideologi separatis rasial, istilah ini digunakan untuk menekankan perbedaan sosial dan budaya antar ras. Jadi rasisme dipandang sebagai kesepadanan dengan rasialisme sehingga pemaknaan ini dianggap sama. Meski demikian, ada juga penjelasan bahwa rasialisme adalah bentuk ideoligi kesetaraan antar ras. Tidak ada perbedaan antara ras yang satu dengan ras lainnya.

Tinggalkan Balasan