Kedua, Gus Maksum pernah aktif dan menjadi juru kampanye partai politik. Gus Maksum yang dikenal sebagai kiai nyentrik ini memang pernah aktif dalam dunia politik. Dalam dunia perpolitikan, Gus maksum hanya sebagai jurkam (juru kampanye). Meskipun pernah ditawari untuk masuk menjadi anggota dewan, Gus Maksum tidak menginginkan terlibat dalam politik praktis.
Sebagai jurkam, Gus Maksum selalu menggemparkan podium saat kampanye. Gus Maksum memiliki power dalam melakukan kampanye sehingga dapat mempengaruhi massa. Meskipun demikian, Gus Maksum tetap berada pada jalur dan garis politik Nahdlatul Ulama.

Ketiga, jendral penumpasan PKI pada 1965. Hal itu karena masifnya aksi terror dan sabotase yang dilakukan PKI terhadap masyarakat khususnya yang ada di tanah kelahiran Gus Maksum. PKI sering menyuarakan yel-yel provokatif yang ditujukan kepada santri pondok pesantren dan juga umat Islam. Selain itu, pengambilan tanah, penculikan bahkan pembunuhan menjadi aksi yang nyata dilakukan oleh PKI.
Dengan adanya problem seperti itu, menjadikan Gus Maksum geram, dan dengan kemampuan yang dimilikinya, ia diamahani menjadi komandan pemberantasan PKI, meskipun pada waktu itu umurnya masih 18 tahun. Gus Maksum termasuk tokoh yang berani menyatakan “Ganyang PKI”. Gus Maksum membuktikan hal tersebut dengan tindakannya.
Keempat, ahli dalam bidang agrobisnis. Gus Maksum, selain sebagai pendekar yang jadug dalam dunia pencak silat, juga pandai dalam pengembangan di sektor agrobisnis. Wujud kesuksesannya di dunia agrobisnis ini seperti pengembangan tanaman nanas, belimbing, semangka, jeruk, kuda, kambing, kijang, ayam, dan merpati.
Keahlian-keahlian tersebut didapat dari berbagai kursus yang diikuti Gus Maksum. Dalam menjalani hidup, Gus Maksum mempunyai konsep, “Bahwa tidak ada istilah antara ilmu agama dan ilmu umum. Apapun yang bermanfaat, ia harus pelajari, termasuk ilmu pengembangan agrobisnis.”
