“Gus”, Novel Pesantren Dian Nafi

Tak lama setelah peristiwa kebakaran, ibu Mafazi sakit dan meninggal. Padahal, ibunya termasuk salah satu sosok yang sangat berperan penting dalam keberlangsungan pendidikan pesantren keluarganya. Mafazi bimbang, antara keinginannya untuk fokus pada kuliah dan mimpi-mimpinya atau memenuhi impian ibunya; menjadi kiai dan pengasuh pesantren.

Belum juga kebimbangan itu usai, ayahnya tiba-tiba memutuskan untuk menikah lagi. Keputusan itu membuat Mafazi dan kedua saudara kandungnya terguncang. Apalagi istri baru ayahnya memiliki seorang putra yang sangat alim dan menjadi idaman; Harun namanya. Mafazi yang selama ini tidak berhasrat menjadi penerus ayahnya sebagai pengasuh pesantren tiba-tiba merasa terancam dengan kehadiran Harun.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dian Nafi menceritakan alur dalam novel ini dengan sangat mengalir dan memikat. Penokohan yang dibangunnya juga kuat dan sangat manusiawi. Bahwa keluarga kiai yang menjadi pengasuh pesantren besar pun juga adalah manusia-manusia biasa, yang juga merasa kecewa, sedih, marah. Cerita utama dalam novel ini juga sangat akrab dengan yang kita jumpai sehari-hari; bahwa ada banyak Gus dan Ning yang tidak berhasrat menjadi penerus orang tuanya di pesantren dan berusaha untuk “lari” dengan kuliah atau kegiatan-kegiatan lainnya.

Selain itu, dalam novel Gus, alih-alih memenuhi isi ceritanya dengan dakwah atau khotbah, Dian Nafi menggunakan narasi-narasi yang sangat mengalir untuk memberikan hikmah atau pelajaran bagi pembaca. Sayang sekali novel ini jarang dibicarakan atau bahkan juga tidak begitu dikenal oleh masyarakat, khususnya dari kalangan santri, padahal jika dibandingkan dengan novel-novel berlatar pesantren yang belakangan terbit, cerita yang diusung novel Gus dan penceritaan Dian Nafi yang memikat ini juga tidak kalah menarik.

Tinggalkan Balasan