Yu Siwen, donatur nasi rames tetap untuk Gutho pun tak tahu di mana keberadaan Gutho. Pasar Nglamuk, dengan segala hiruk-pikuknya, sama sekali tidak kehilangan Gutho. Semua berjalan seperti sedia kala. Hal ini tidak berlaku pada Babah Achong. Dari dalam lubuk hatinya, ia rindu ‘menyiram’ Gutho.
Untuk mengelabui orang-orang akan kerinduannya, ia sering terlihat tiba-tiba berbicara sendiri.

“Mana itu olang gila! Kalau Owe ketemu itu olang, mau Owe pukulin! Bial tahu lasa itu olang sinting!”
Di tengah keanehannya, Rojikin, salah satu karyawannya, mengingatkannya bahwa hari ini jadwal sang bos memeriksa rekaman video di cctv-nya. Benar saja, setelah melihat almanak kecil di meja kerja, Babah Achong langsung mengiyakan dan pergi ke ruang tengah rumahnya. Di situlah terdapat seperangkat komputer di mana video rekaman kamera pengintai bisa ditonton. Ia dengan teratur melihat video rekaman sebulan sekali, atau ketika terjadi hal-hal darurat.
Video rekaman menunjukkan situasi yang aman pada minggu pertama bulan ini, begitupun minggu kedua. Gutho rutin tidur setiap pukul sebelas malam dan dibangungkan oleh Babah Achong pukul lima pagi.
“Ghuto, di mana kau?” lirih Babah Achong ketika melihat Gutho yang seolah bergerak sangat cepat saat melakoni kebiasaannya tidur di depan ruko Babah Achong. Hal itu adalah efek fast-forward pada monitor kamera pemantau.
Sesuatu hal yang mengganjal terjadi ketika rekaman memasuki minggu ketiga. Pada malam hari, ketika Gutho sedang tertidur pulas, sekawanan orang berbaju hitam berjumlah lima orang turun dari mobil sedan. Mereka membawa pelbagai senjata. Satu di antara mereka membawa linggis.
Tanpa basa-basi, si pembawa linggis langsung berusaha mendongkel pagar alumunium ruko Babah Achong. Ketika ia sedang berusaha membuka pagar itu, Gutho bangun dan menendang pantat si pembawa linggis. Si pembawa linggis kalap dan berusaha memukul Gutho, namun Gutho berhasil mengelak, linggis itu bahkan sampai mengenai pagar alumunium. Teman-teman si pembawa linggis yang tadinya hanya menonton akhirnya turun tangan. Satu di antara mereka menuju ke belakang Gutho dan menusuknya. Gutho yang sedang konsentrasi terganggu oleh si pembawa linggis, lengah dan tertusuk.
Sebelum terkapar, salah satu orang dari kawanan perampok itu membentangkan karung agar ketika Gutho jatuh, darahnya tak menetes ke tanah. Setelah tersungkur, Gutho langsung dilarikan oleh kawanan bandit yang tak mengenal belas-kasihan itu. Mobil sedan dengan Plat R itu melesat menuju arah ke Utara, entah ke mana.
Rojikin dan Babah Achong tertegun. Mereka berdua terdiam hampir lima menit, ruangan sepi, hanya detak jarum jam yang terdengar. Babah Achong mulai menitikkan air mata, ia kehilangan kemampuan untuk bicara saat itu. Rojikin merapal kalimat tarji.’
