Gutho yang Tak Pernah Kembali

***

Pagi hari buta di tengah musim kemarau adalah surga untuk tidur pagi. Udara yang dingin merayu orang-orang ogah beranjak dari tempat tidur.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tapi rayuan tersebut tidak mempan untuk orang-orang pasar. Mereka bangun pagi buta seperti biasanya. Mereka adalah sahabat sejati bagi udara dingin dan kabut.

Babah Achong yang sudah bersiap dengan seember air yang begitu dingin membuka pintu rukonya. Begitu pintu terbuka ia siap menyiram air ke tempat di mana Gutho biasa tidur mendengkur, tanpa alas, berbalut kain sarung lusuh.

Lelaki enampuluh tahun itu sedikit kaget melihat tak ada tubuh Gutho yang acap kali berbaring di depan rukonya. Ia menengok ke kanan dan kiri, namun tak menjumpai Gutho. Ia merasa heran pagi itu. Sudah tak ada lagi tukang becak yang mangkal di dekat ruko Babah Achong sehingga tak ada seseorang yang mungkin bisa ditanya perihal keberadaan Gutho. Namun ada hal aneh yang terjadi pada pagar alumunium yang menutupi rukonya. Pagar itu penyok di beberapa sisi seperti habis dipukul dengan benda tumpul.

Seketika Babah Achong mencak-mencak sejadi-sejadinya. Ia menuduh Gutho yang merusak pagar tokonya itu. Tetapi itu hanya berlangsung sebentar, sisanya, pagi itu, Babah Achong banyak diam dan murung. Seperti ada sesuatu yang merisaukan perasaannya.

Para pelanggan heran melihat tindak-tanduk lelaki botak itu. Para kuli juga merindukan omelan lantang dan cepat khas Babah Achong yang pagi itu tak terdengar jua, meski para kuli sengaja berbuat salah. Mereka merasakan ada yang hilang dari sikap majikannya.

Keesokan harinya, Babah Achong yang telah menyiapkan seember air untuk menyiram Gutho kembali bengong melihat emperan rukonya kosong-melompong. Gutho kembali absen untuk kedua kalinya. Babah Achong kembali murung dan menjadi pendiam pagi itu. Ia seperti Isaac Newton yang tengah merenungi peristiwa apel jatuh dari pohon yang baru dilihatnya.

Hari ketiga, hari keempat, hari kelima, hari keenam, dan seterusnya, Gutho kembali tak terlihat. Ia hilang bak tertelan bumi. Kali ini Abah Achong benar-benar tak bisa mengendalikan diri untuk menampakkan kekhawatirannya pada Gutho.

Ia tanyai satu per satu pedagang di Pasar Nglamuk di mana Gutho berada. Sayang sekali tak ada yang tahu di mana pria yang kehilangan setengah akalnya itu.

Tinggalkan Balasan