Hal serupa juga pernah disindir oleh Gus Baha, sebagai berikut: “Kalau kamu bilang cinta Nabi, tapi caramu memperingati Maulid malah joget, ya itu bukan cinta nabi, itu ngeledek.”
Ironis, memang. Hadrah sekarang malah menjadi sebuah ajang pengkultusan sosok. Vokalis yang tampan dan pemain rebana yang stylish kini yang menjadi daya tarik utama. Bukan lagi lantunan selawat yang dirindukan, tapi wajah sang vokalis yang ingin ditatap. Ini bukan fenomena cinta Rasul, tapi jatuh cinta pada penampilan. Tak sedikit yang datang ke majelis bukan untuk menangis karena rindu Nabi, tapi karena ingin melihat vokalis favorit dari barisan depan. Maka tak heran jika hadrah kemudian lebih terasa seperti konser mini daripada majelis ruhani.

Lebih dari itu, sebagian vokalis juga abai terhadap adab. Membawa mikrofon seperti sedang manggung, bergaya, bercanda seenaknya, bahkan berperilaku berlebihan di atas panggung. Padahal, tugas seorang vokalis hadrah bukan sekadar menyanyi, tapi menyampaikan ungkapan rasa rindu kepada Rasul. Suaranya hanyalah perantara, bukan pusat perhatian.
Dalam kitab I’anatut Thalibin (Juz 2, 258) dijelaskan bahwa nyanyian yang tujuannya menyentuh hati dan menumbuhkan zikir, maka hukumnya boleh, bahkan bisa juga bernilai ibadah. Tapi bila tujuannya untuk menimbulkan syahwat dan tawa berlebihan, maka hukumnya bisa makruh atau bahkan haram.
