Lebih menyedihkan lagi, hadrah kini kadang dijadikan alat pencitraan. Mungkin ada seperti seorang yang punya suara sangat merdu, bahkan termasuk vokalis utama di tim hadrah. Tapi niatnya bergeser. Ia tampil bukan untuk mengajak berselawat karena cinta Rasul, tapi agar ada perempuan yang tertarik padanya. Ia tahu suaranya itu indah, tapi yang ia kejar justru perhatian dari orang.
Ini bukan hanya soal niat pribadi, ini soal pembusukan makna dalam tradisi. Ketika selawat dijadikan senjata untuk menarik simpati lawan jenis, maka hadrah bukan lagi ruang spiritual melainkan arena pencitraan sosial. Padahal, seorang vokalis hadrah seharusnya sadar betul bahwa suaranya bukan miliknya semata. Tapi itu amanah yang seharusnya digunakan bukan untuk memikat manusia, tapi untuk mengajak manusia mencintai Rasulullah SAW. Dan cinta sejati kepada Rasul tidak akan pernah lahir dari niat pamer.

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa “Musik bisa menjadi kendaraan menuju Allah, jika disertai hati yang bersih. Tapi juga bisa jadi kendaraan menuju maksiat, jika dipakai untuk memuaskan syahwat.”
Maka tulisan ini bukan semata opini, tapi sebuah kegelisahan. Sebab, terlalu banyak simbol-simbol agama dijadikan panggung hiburan. Kita kehilangan batas. Kita menikmati suara, tapi melupakan makna. Kita mengejar irama, tapi lupa kepada siapa syair itu ditujukan. Jika hadrah ingin tetap hidup sebagai tradisi yang agung, maka ia harus diselamatkan dari euforia panggung hiburan. Tempatkanlah hadrah di ruang yang pantas. Hadirkan dengan adab. Jadikan setiap tabuhan rebana sebagai seruan rindu kepada Nabi Muhammad SAW.
