Hafalan, Nalar, dan Tantangan Abad Digital

Pondok pesantren sejak awal berdiri dibangun di atas dua tiang utama, yaitu hafalan dan adab. Santri menghafal matan, nazam, dan ayat demi ayat bukan sekadar untuk menyimpan informasi, tetapi untuk menanamkan cara berpikir. Namun abad digital menghadirkan situasi baru. Pengetahuan tidak lagi langka, melainkan melimpah dan mudah diunduh dalam hitungan detik. Di titik inilah pesantren berhadapan dengan pertanyaan besar, apakah tradisi hafalan masih relevan ketika mesin pencari mampu mengingat lebih banyak daripada kepala manusia?

Hafalan dalam tradisi pesantren sesungguhnya tidak pernah berdiri sendirian. Ia selalu berpasangan dengan nalar. Santri menghafal Alfiyah, Imrithi, atau bait-bait ushul fikih agar memiliki peta berpikir ketika membaca realitas. Masalah muncul ketika hafalan dipersempit menjadi tujuan akhir, bukan sebagai pintu menuju pemahaman. Di banyak ruang belajar, ukuran keberhasilan masih berhenti pada seberapa banyak teks tersimpan di kepala, bukan seberapa jauh teks itu melahirkan cara pandang yang jernih.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Abad digital menggoda generasi muda dengan jalan pintas. Jawaban atas persoalan agama dapat ditemukan melalui potongan video satu menit. Fatwa dihadirkan seperti menu cepat saji. Akibatnya, proses panjang yang dulu ditempuh melalui talaqqi, diskusi, dan laku batin perlahan dianggap tidak efisien. Santri hidup di dua dunia, yakni dunia disiplin pesantren yang menuntut kesabaran, dan dunia internet yang menjanjikan kecepatan.

Tantangan ini tidak bisa dijawab dengan sikap menutup diri. Menjauhkan gawai dari pesantren mungkin meredakan kecemasan, tetapi tidak menyelesaikan persoalan. Yang dibutuhkan adalah merumuskan ulang hubungan antara hafalan dan nalar. Hafalan mesti dipahami sebagai fondasi, sedangkan nalar menjadi bangunan yang terus bertumbuh. Tanpa fondasi, nalar mudah rapuh. Tanpa nalar, hafalan hanya menjadi museum kata-kata.

Banyak kiai sesungguhnya telah memberi teladan tentang keseimbangan itu. Mereka menguasai ribuan bait kitab, tetapi sekaligus lentur membaca perubahan zaman. Tradisi bahtsul masail di pesantren menunjukkan bahwa teks selalu diajak berdialog dengan konteks. Metode ini sangat relevan untuk menghadapi banjir informasi digital. Santri perlu dilatih bukan hanya mengingat dalil, tetapi juga menimbang sumber, memeriksa motif, dan membedakan antara pengetahuan dan opini.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan