Haji dengan Catatan

Saat masih remaja, ulama kelahiran Baghdad ini meminta izin kepada ibunya untuk pergi haji. Ibunya ditinggal seorang diri di rumah. Saat itu, ia harus berjalan menyusuri padang pasir untuk bisa sampai ke Tanah Suci. Di tengah jalan, ia kaget saat bertemu dengan mayat yang tergeletak di padang pasir namun bibirnya tersenyum.

Didera penasaran, Abu Bakar bertanya, “Mengapa engkau tersenyum, padahal sudah mati?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Karena kasih Allah,” mayat itu menjawab.

Abu Bakar kemudian melanjutkan perjalanannya. Namun, jawaban mayat itu selalu terngiang-ngiang di sepanjang perjalanan. Di tengah perjalanan itu, tiba-tiba ia tersadar perbekalannya telah habis, sedangkan perjalanan masih panjang. Maka, ia putar balik. Kembali pulang untuk menambah perbekalan.

Sesampai di rumah, sang ibu sedang menunggunya di balik pintu, dengan roba berbinar dan senyum menawan. Abu Bakar pun heran dengan sikap ibunya. Lalu bertanya, “Ibu, bukankah ibu telah mengizinkan aku pergi?”

“Ya. Tetapi tanpa engkau aku tak sanggup melihat rumah ini. Sejak engkau pergi, aku duduk di tempat ini terus-menerus.”

Jawaban itu menyadarkan Abu Bakar Al-Kattani untuk tidak mengulangi perbuatannya, meninggalkan ibunya seorang diri. Sejak itu ia berjanji, sebelum ibunya meninggal ia tidak mau mengarungi padang pasir lagi untuk berangkat haji.

Kelak, Abu Bakar Al-Kattani mendapat julukan “Pelita Masjidil Haram” karena menetap di kota Makkah hingga wafatnya. Selama tinggal di Tanah Suci, setiap malam waktunya diisi dengan salat malam dan membaca Al-Quran sampai khatam.

Tapi kisah ulama masyhur ini bukan satu-satunya hikmah sufi untuk melihat hakikat haji dengan pandangan jernih. Dulu, di daerah Syam, hiduplah seorang tukang sepatu. Meskipun miskin, ia memiliki niat yang kuat untuk berhaji.

Tinggalkan Balasan