Haji Markotop

Seketika tawa mereka terhenti. Suasana menjadi lengang sementara waktu. Orang-orang yang tertawa tadi menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum menyeringai. Kini, balik orang yang bertanya tadi tertawa terpingkal-pingkal. Ia senang, sebab bukan hanya ia yang tidak tahu pada Mekkah. Atau, ia tertawa hanya untuk membalas tawa-tawa mereka.

Setelah keriuhan itu reda, Markotop kembali meneruskan pidatonya, “Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu. Mekkah itu tanah suci, tak sembarang orang bisa ke sana. Sekali lagi, Mekkah itu tanah suci, dan saya baru saja dari sana. Dengan begitu, sekarang saya sudah menjadi seorang haji.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kembali mereka —orang-orang kampung lugu— bertukar pandang. Seperti sebelumnya, ada yang masih asik makan, dan ada pula yang termangu bisu seolah mengerti. Namun, kelengangan itu tak berlangsung lama. Sebab, tiba-tiba mereka berbondong-bondong menyalami Markotop, dan berucap, “Selamat, Pak. Selamat, Pak.”

Bahagia mekar di hati Markotop. Sebab, sebentar lagi orang-orang akan memanggilnya Haji Markotop! Ia akan berbangga-bangga dengan gelar itu. Ia adalah seorang haji, dan sudah sepantasnya di panggil Haji Markotop. Namun, lagi-lagi kebahagiaan itu tak berlangsung lama.

Setelah perjamuan di rumahnya itu, Markotop jalan-jalan santai keliling kampung. Selain ingin menikmati udara pagi, ia juga ingin menikmati gelar barunya sebagai seorang haji. Namun, ada yang mengusik telinganya. Orang-orang kampung memang menyapanya. Namun, masih terdengar di telinga kanannya, kata “Markotop” atau “Pak Markotop” masih melekat sebagai namanya. Ia kesal, sebab nama haji di depan namanya kembali lenyap begitu saja.

Markotop pulang dengan uring-uringan. Langkahnya tergesa-gesa, mukanya merah padam seperti singkong telat diangkat dari dalam tungku. Napasnya kembang kempis, dan dadanya remuk redam. Namun, ia adalah Markotop, tak pernah kehabisan cara agar bisa dipanggil haji. Haji Markotop.

Ia membuat spanduk yang cukup besar. Spanduk itu menempel jelas di tembok depan rumahnya. Selain itu, ia juga membuat poster-poster kecil, berisi wajahnya, dan tentu juga sebuah tulisan gede-gede: H. Markotop. Poster-poster itu tersebar di seantero kampung.

Dengan begitu, Markotop berharap tak ada yang lupa lagi dengan gelar di depan namanya. Dalam pikirannya, orang-orang kampung akan melihat poster dan spanduk itu, dan kemudian membacanya dan menyapanya dengan sebutan: Haji Markotop. Namun aneh, orang-orang kampung tetap saja memanggil namanya yang asli: “Markotop” atau “Pak Markotop”. Ia lupa, bahwa kebanyakan orang kampungnya buta aksara.

Ia sangat kesal, marah, dan kehabisan kesabaran. Markotop menyewa mobil pikap sebagai altenatif terakhir. Dengan mobil itu ia keliling kampung. Dengan pengeras suara, ia mulai orasi, “Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu tercinta, jangan panggil saya lagi dengan sebutan ‘Pak’. Tapi panggil saya dengan sebutan ‘Haji’. ‘Haji Markotop!’ Siapa…?”

“Haji Markotop!” serempak orang-orang menjawab.

“Sekali lagi. Siapa?”

Tinggalkan Balasan