“Haji Markotop!”
Namun, di tengah-tengah kerumunan orang kampung itu, masih ada satu orang yang menceletuk, “Kenapa kami harus memanggilmu Haji Markotop?!”

“Karena saya memang seorang haji. Saya orang-orang pilihan. Saya orang-orang terbaik. Dan kalian harus memanggil saya siapa?” tanya Markotop lebih menggebu-gebu lagi.
“Haji Markotop!”
“Sekali lagi. Siapa?”
“Haji Markotop!”
Dan sandang haji telah melekat pada nama Markotop sejak hari itu. Ia tak memerlukan cara apa pun lagi agar di panggil “Haji Markotop”. Sejak kejadian menghebohkan itu, Markotop telah mendapat gelar haji resmi dari orang-orang di kampungnya.
Markotop amat sangat senang. Tiap ia berjumpa dengan orang-orang kampung, maka, orang-orang kampung itu akan menyapanya dengan sebutan, “Assalamualaikum Haji Markotop”. Terlihat elok dan enak didengar di telinga. Haji Markotop, begitulah orang-orang kampung kini memanggil namanya.
Namun, dari waktu ke waktu, telinga Markotop atau Haji Markotop kembali terusik. Ia merasa terganggu dengan sebutan haji. Sebab —entah bagaimana hal itu bisa terjadi— orang-orang kampung memanggil dengan sebutan haji bukan hanya pada Markotop seorang. Mereka —orang kampung lugu— menyapa dengan sebutan haji kepada siapa pun. Seakan-akan, mereka semua berhak memiliki gelar itu.
Maka terciptalah banyak haji di kampung itu. Orang satu ke orang lainnya menyapa dengan sebutan “Haji”, begitu pun sebaliknya. Bagaimana bisa, pikir Markotop. Haji-haji yang muncul di kampungnya, atau lebih tepatnya wabah haji itu, terus menyerang telinga Markotop. Sejak saat itu, seperti orang-orang kampung yang seenaknya memberi gelar pada nama sendiri, Markotop ingin menambahi namanya dengan gelar Kiai, sehingga keseluruhan namanya menjadi: K.H. Markotop.
