“Gontor saiki piro santrine?” (Gontor sekarang santrinya berapa?)
Terus saja pertanyaan basa basi itu beliau lontarkan sembari tak henti mengelap-elap seluruh bagian dari gelas itu, dengan sepotong celana dalam tadi, tanpa terluput satu inci pun. Entah bagaimana perasaan Kiai Syukri ketika itu. Yang jelas, tak begitu lama, Gus Mus mengabarkan kalau airnya sudah matang.

“Gus, sudah matang ini,” kata Gus Mus mengabarkan.
Gus Dur pun masuk, dan sesaat kemudian kembali dengan membawa gelas beserta lepeknya yang telah terseduh kopi. Sembari berjalan, terlihat, beliau mengaduk kopi itu menggunakan batang sikat gigi. Masih dengan gayanya yang santai, beliau suguhkan kopi itu sepaket dengan gagang sikatnya.
“Monggo, disambi,” Gus Dur mempersilakan tamunya minum.
Begitulah salah satu kisah dari kenakalan Gus Dur yang sempat beliau ceritakan kepada Cak Nun (Emha Ainun Najib). Tentu saja, kisah itu membuat seorang Cak Nun kepalang mangkel, kesal, karena Kiai Syukri tidak lain adalah gurunya Cak Nun. Tetapi, di balik itu semua, “Inilah yang seringkali disebut dengan kemesraan. Di mana, bukan lagi soal hal-hal yang tampak di muka, melainkan apa saja yang ada di balik itu semua.”
Bila kisah tadi hanya kita lihat sepintas, dari luarnya saja, maka semua perilaku seorang Gus Dur itu hanya menjadi sebuah joke ataupun anekdot yang sering dianggap “nyleneh” dan “mblunat” (salah satu istilah orang Jombang untuk menyifati orang yang banget nakalnya).
Sebagaimana yang pernah Ning Alissa katakan perihal Bapaknya, “Yang perlu kita ambil dari diri seorang Gus Dur adalah ilmu dan mutunya, bukan kebiasaan-kebiasaannya (perilakunya yang nyeleneh).”
Oleh karena itu, jika kita kembali pada kisah di awal tadi, ada beberapa i’tibar yang dapat kita petik, salah satunya soal sudut pandang lain. Di mana, celana dalam yang buat ngelap gelas itu ternyata celana dalam bersih, yang belum dipakai sama sekali. Pun, sikat gigi yang dijadikan untuk mengaduk kopi itu juga masih baru buka segel.
