Hal yang Kita Rindukan dari Gus Dur

Namun, karena kebanyakan orang telanjur termakan stigma umum, lazimnya akan menimbulkan kesan tanya dalam batinnya. Sikat gigi yang biasa digunakan untuk membersihkan gigi kok malah dibuat mengaduk kopi. Begitupun dengan kain yang bersih, menjadi terkesan “bagaimana gitu”, karena telah berwujud “celana dalam”.

Orang bakal dibuat bingung. Namun, itu bukan kebingungan hakiki. Melainkan, kebingungan budaya. Kebingungan yang disebabkan oleh perbuatan yang di luar kewajaran, atau bahkan menyalahi adat kebanyakan orang (khoriqul adat).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Oleh Gusdur, hal-hal demikian itu ditolak lewat beberapa kebiasaan yang seringkali “nyeleneh”. Seperti moment pasca beliau dimakzulkan. Di mana, pada saat itu, ketegangan terjadi di mana-mana. Namun, dengan santainya, beliau mempertontonkan tindakan “nyelenehnya” lagi, keluar dari istana kepresidenan hanya dengan mengenakan kaus oblong dan celana pendek.

Sungguh, suatu momen yang mungkin hanya sekali dalam sejarah panjang peradaban umat manusia, di mana, dalam riwayat manapun, tidak ada dijumpai satupun kaisar, sultan, raja, ataupun presiden di belahan bumi mana pun, yang berani mempertontokan dirinya di depan publik, dengan hanya mengenakan kaus oblong dan celana pendek di depan pelataran istananya.

“Memang tidak ada yang resmi dalam diri seorang Gus Dur.” Oleh Rocky Gerung, ketika menggambarkan sosok Gus Dur, “Sebagai sosok yang tidak hanya mengalir, tapi memang tidak ingin ada aliran.”

Dalam perjalanan hidupnya, Gus Dur telah memberikan kita satu bab penting dalam demokrasi kita, yaitu kesetaraan. Gus Dur telah mengajarkan kita bagaimana cara membangun jalan pikiran, bukan lagi sekadar membangun jalan tol.

Lewat karya-karyanya, dan seluruh jejak dari rangkaian perjalanan hidupnya, kita akan sering mendapati cara pandangnya yang berbeda dari orang kebanyakan. Atau, dalam pengertian lain, Gus Dur sering memikirkan apa yang orang lain tidak sempat memikirkannya. Hingga terciptalah beragam joke dan anekdotnya yang khas, dan seringkali dirindukan, karena bisa melumerkan ketegangan. Terutama ketegangan-ketegangan yang kian menegang dewasa ini. Mungkin satu tanggapan beliau, dalam dialog imaji, ketika ditanya soal ketegangan yang kian menyelimuti negeri ini, “Memang orang-orang itu merepotkan.”

Al fatihah teruntuk Gus Dur. Waallahu a’lam bish showab.

Tinggalkan Balasan