Haul dan Harlah ke-76 Nurul Jadid, Kilas Balik Perjalanan Kiai Zaini

Heilige Zone sendiri timbul dari rasa ketir dan ketakutan Belanda terhadap Kiai Syamsul Arifin. Belanda pernah menahan dan memenjarakan Kiai Syamsul Arifin. Selama di penjara Kiai Syamsul Arifin selalu rutin melakukan tasbih dan berzikir, rumah tahanan dan bangunan di sekitarnya bergoyang-goyang seperti terkena gempa, bergerak sesuai dengan wiridan Kiai Syamsul Arifin. Akhirnya Belanda ketakutan dan membebaskan Kiai Syamsul Arifin, dan diberi tanah yang sekarang menjadi Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah (Heilige Zone).

Menetap di Paiton

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pada tahun 1948, Kiai Zaini pindah ke Paiton, Probolinggo untuk mengungsi sekaligus menghindar dari kejaran Belanda. Pada mulanya pondok ini merupakan hutan belantara. Babi hutan masih sangat mudah dijumpai terutama di musim panen tebu.

Sebelum memutuskan untuk tinggal di desa ini, Kiai Zaini meminta masukan dari Kiai Syamsul Arifin terkait beberapa desa yang akan ditempatinya. Kiai Syamsul Arifin memilih daerah Paiton sebagai lokasi yang sekarang menjadi Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Walaupun Indonesia sudah mendeklarasikan kemerdekaan, tapi masih tersisa beberapa tempat yang dikuasai Belanda. Baru tiga bulan menempati Paiton, lokasi Kiai Zaini diketahui oleh Belanda, orang yang dicari dan dikejar-kejar dari Madura. Sehingga pada malam harinya, tanggal 9 Desember 1948, Kiai Zaini ditangkap dan ditahan di penjara Probolinggo.

Setelah hampir tiga bulan dipenjara, Kiai Zaini dibebaskan. Kiai Zaini langsung aktif melakukan pengajian pada masyarakat sekitar. Pada mulanya ada dua orang yang ingin mondok ke Kiai Zaini dan keduanya merupakan santri pertama. Lambat laun santrinya bertambah banyak sampai saat ini.

Tinggalkan Balasan