Rahasia kedua, sebab berkah orang tua dan guru. Pondok Pesantren Nurul Qarnain menjadi maju dan berkembang seperti saat ini di bawah kemudi KH Yazid, tidak lepas dari berkah dan doa orang tua dan para guru dari KH Yazid. Kiai Yazid mengisahkan bahwa kakeknya, Kiai Idris, setiap hari membaca Selawat Nariyah sebanyak 4.444, dengan niat agar memiliki anak keturunan salih yang mampu memikirkan pendidikan umat Islam. Sedangkan sang ayah, KH Karimullah, setiap hari istikamah membaca Al-Quran yang ditujukan untuk keselamatan dan kebahagiaan putranya. Keistikamahan sang ayah dalam membaca Al-Quran dibiasakan sejak KH Yazid lahir ke dunia hingga sang ayah kembali pulang ke rahmatullah.
KH Yazid Karimullah juga menceritakan lelaku saat nyantri kepada KH Abdullah Yakin di Pondok Pesantren Bustanul Ulum Mlokorejo dan kepada KHR. As’ad Syamsul Arifin di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

“Saat di Mlokorejo, saya sangat ingin dapat titah Kiai. Saya selalu berdoa setiap waktu kepada Allah. Akhirnya, Allah mengabulkan doa saya. Malam harinya, utusan santri menyampaikan bahwa saya disuruh ke ndalem Kiai, disuruh memijat Kiai. Saya senang sekali. Lalu saya mijat Kiai sampai beliau tidur. Saya tidak pindah-pindah dan tidak berhenti memijat karena tidak ada perintah beliau untuk berhenti. Saya mijat Kiai sampai azan Subuh,” kisahnya.
Sebagai pemungkas acara, KH Yazid berdoa semoga dengan berkah acara Haul Majemuk Masyayikh Nurul Qarnain, asatiz, guru dan dosen yang mengajar di Nurul Qarnain mendapat kebahagiaan dunia akhirat dan mempunyai keturunan yang salih-salihah. Para santri yang belajar di Nurul Qarnain, semoga mendapat hidayah Allah sehingga rajin mempelajari ilmu-Nya. Para alumni, semoga diselamatkan oleh Allah dan selalu nyambung (bersambung) ke pesantren. Simpatisan yang membantu pesantren, semoga diberi keselamatan dan kebahagiaan. Tepat pukul 10.35 WIB acara haul majemuk berakhir.
