Haul Pertama Sang Khadimul Ummah

“Abah selalu mengutamakan pendidikan dan dakwah,” kenang Ibu Suci, putri keenam KH Badrussalam. “Beliau rela bersepeda ontel dari rumah ke Masjid Agung Jami’ Malang untuk menjadi imam salat lima waktu, kemudian mengajar di Madrasah Mu’allimin.”

Kesederhanaan dan keikhlasan Kiai Badrussalam dalam mengajar telah melahirkan banyak murid yang kemudian menjadi tokoh-tokoh penting, seperti Brigjen (Purn) Sulam Samsun, mantan pengurus PBNU, dan beberapa pengurus Muslimat NU Kota Malang. Dedikasi beliau dalam dunia pendidikan terbukti ketika beliau menolak tawaran untuk menjadi Ketua Pengadilan Agama Malang sekitar tahun 1970, dan memilih untuk tetap mengajar di madrasah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kiai Badrussalam juga dikenal sebagai sosok yang istikamah dan sabar. Ustaz Kamilun Muhtadin menuturkan bahwa beliau hampir tidak pernah absen mengimami salat lima waktu di Masjid Agung Jami’ Malang. Bahkan ketika sedang mengajar di madrasah, beliau akan meminta izin untuk pergi mengimami salat jika waktu salat telah tiba.

Kesabaran Kiai Badrussalam teruji ketika suatu hari sepeda ontelnya yang menjadi alat transportasi sehari-hari dicuri saat diparkir di halaman Masjid Jami’. Namun, beliau hanya tersenyum dan pulang ke rumah dengan berjalan kaki, tanpa mengeluh sedikitpun.

Selain sabar, Kiai Badrussalam juga dikenal sebagai sosok yang wara’ atau sangat berhati-hati dalam masalah halal dan haram. H Gatot Dardiri, salah satu takmir Masjid Agung Jami’ Kota Malang saat ini yang juga keponakan beliau, menceritakan bagaimana Kiai Badrussalam pernah menolak makanan yang beliau tidak yakin kehalalannya.

Puncak acara haul diisi dengan ceramah oleh KH Nur Hasanuddin pada malam hari. Dalam ceramahnya yang penuh hikmah, Kiai Nur Hasanuddin mengajak jamaah untuk meneladani sikap istikamah, sabar, dan wara’ yang menjadi ciri khas Kiai Badrussalam.

Tinggalkan Balasan