Hermeneutika, Metode Alternatif Memahami Teks Qur’an (1)

Dalam sejarah Islam, dominasi laki-laki jauh lebih kuat dibandingkan dengan perempuan, di mana mereka memiliki kontribusi besar dalam menafsirkan teks yang dibakukan dalam sebuah bentuk kitab. Namun, bagi sebagian orang, kitab hasil tafsiran ulama tersebut kemudian diklaim sebagai barang sakral yang tidak boleh dikritisi, bahkan diposisikan sebagai kitab suci ketiga agama Islam setelah Al-Quran dan hadis.

Melihat fenomena itu, Nasaruddin Umar misalnya mengatakan bahwa, pada umumnya literatur-literatur klasik Islam yang ditulis para ulama seperti kitab tafsir, fikih, akhlak, dan tauhid disusun dalam perspektif androsentris, di mana laki-laki menjadi ukuran segalanya. Padahal, literatur-literatur klasik ini kalau diukur dalam ukuran modern, banyak di antaranya dapat dinilai sangat bias gender. Untuk mengkaji kitab tersebut harus dengan rangkaian kesatuan yang koheren terutama antara penulis atau penafsir dengan latar belakang sosial-kulturalnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Untuk mengurangi bias gender dalam pemahaman atau penafsiran teks kitab suci, maka dibutuhkan sebuah metode yang tepat untuk memperoleh makna yang objektif. Bagi sebagian tokoh feminis, hermeneutik merupakan salah satu metode yang cukup representatif untuk mengungkap misteri simbolik di dalam teks, meskipun istilah hermeneutik sendiri tergolong baru dalam tradisi keilmuan Islam.

Syahdan, hermeneutik pada awalnya dikembangkan sebagai alat untuk menafsirkan Bibel, kemudian berkembang sebagai alat interpretasi bidang-bidang ilmu yang lain seperti sastra, budaya, sosiologi, filsafat, dan lainnya. Adapun, tokoh-tokoh yang mengembangkan metode hermeneutik adalah Friedrich Scleiermacher, Wilhelm Dilthey, Hans-Gorge Gadamer, Jurgen Habermas, Paul Ricoeur, dan Jacques Derrida.

Kalau ditelisik secara etimologis, kata hermeneutik berasal dari bahasa Yunani hermeneuin yang berarti menafsirkan dan dalam bahasa Inggris disebut hermeneutic. Dalam studi keislaman, padanan kata yang paling dekat dengan makna hermeneutik adalah tafsir, ta’wil, syarah, dan bayan.

Menurut Zygmunt Bauman, heremeneutik merupakan sebuah upaya menjelaskan dan menelusuri pesan dan pengertian dasar dari sebuah ucapan atau tulisan yang tidak jelas, kontradiktif, dan masih kabur. Sedangkan, Schleiermacher menjelaskan, hermeneutik merupakan sebuah teori tentang penjabaran dan interpretasi teks-teks mengenai konsep-konsep tradisional kitab suci dan dogma.

Tinggalkan Balasan