Hermeneutika, Metode Alternatif Memahami Teks Qur’an (2)

Pendekatan yang ditawarkan oleh Asma Barlas berbeda dengan pendekatan Gadamer dalam memahami teks. Gadamer melihat teks dalam bingkai waktu, yaitu masa lampau (past), masa sekarang (present), dan masa yang akan datang (future). Dari ketiga pendekatan yang ditawarkan oleh Gadamer, Asma Barlas mempunyai kecenderungan yang berbeda-beda, oleh karena itu, ketiganya harus digunakan untuk saling melengkapi satu sama lain dan hasil interpretasi teks akan berbeda ketika hanya menggunakan salah satu dari ketiga pendekatan tersebut.

Selain tiga pendekatan tersebut, Margot Badran juga menawarkan cara lain yang lebih praktis untuk menghindari bias gender dalam penafsiran teks. Yaitu, pertama, merevisi ayat Al-Quran untuk meluruskan cerita-cerita yang palsu dalam sirkulasi umum seperti termasuk penjelasan tentang penciptaan dan peristiwa-perstiwa di surga tentang cerita Adam yang menunjukkan klaim atas superioritas laki-laki. Kedua, mengutip ayat-ayat al-Quran yang menerangkan secara jelas kesetaraan laki-laki dan perempuan. Ketiga, mendekonstruksi ayat-ayat yang menerangkan perbedaan laki-laki dan perempuan yang secara umum ditafsirkan dengan cara-cara yang cenderung menjastifikasi dominasi laki-laki.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Menarik, ternyata Fatima Mernissi mempunyai konsep yang sama dengan para tokoh hermeneutik lainnya dalam menafsirkan teks kitab suci, khususnya Al-Quran. Fatima menekakan pentingnya dekonstruksi sejarah dan penafsiran ulang atas ayat-ayat Al-Quran. Dekonstruksi sejarah dianggap sangat penting untuk melihat seluruh perdebatan dan pergulatan yang berlangsung di seputar masalah perempuan dan gender.

Di awal sejarahnya, perempuan Muslim sangat aktif dalam berbagai kegiatan publik, tetapi fase-fase selanjutnya mengalami penurunan. Bagi Mernissi, hal ini banyak disebabkan oleh intervensi dan over-control dari penguasa Muslim, maka lanjut Mernissi mereka harus bertanggung jawab atas rendahnya pandangan masyarakat terhadap perempuan.

Tak hanya Mernissi, Amina Wadud juga menawarkan rekonstruksi metodologi tafsir, yakni metode hermeneutik Al-Quran yang selalu berhubungan dengan tiga aspek, yaitu, pertama, dalam konteks apa teks itu ditulis, atau dalam kaitannya dengan Al-Quran adalah dalam konteks apa ayat tersebut diturunkan. Kedua, bagaimana komposisi tata bahasa teks atau ayat tersebut, bagaimana pengungkapannya dan apa yang dikatakannya, dan ketiga, bagaimana keseluruhan teks sebagai weltanschaung (pandangan dunia).

Tinggalkan Balasan