Hidup-Mati NU untuk NKRI

Di depan tiga ancaman ini, banyak warga NU yang bingung, bahkan sebagian terseret. Maklum, setiap gerakan tersebut ditata secara sistemik dengan kucuran funding yang tidak sedikit. Rata-rata penyandang dananya dari luar negeri. Para penyebarnya juga sudah dididik secara matang dan menguasai medan dakwah. Ditambah lagi beragam aliansi media yang mereka miliki. Sebab itu, agar warga NU tidak mudah terpengaruh gerakan massif tersebut, sangat penting memberikan patokan jelas tentang manhaj Aswaja yang dipegang NU, yaitu moderat, toleran, reformatif, dinamis, dan metodologis.

Dalam sejarah, Aswaja yang dipegang NU memang tidak pernah melakukan tindakan ekstrem. Ia justru menjadi juru damai dari dua belah pihak ekstrem yang bertikai. Bagi Aswaja, pertikaian terjadi karena setiap kelompok terlalu memandang sisi baik kelompoknya sehingga lupa terhadap sisi kelemahannya, dan juga begitu buta melihat sisi positif kelompok lain karena terlalu fokus atau memang sengaja bernafsu mencari kesalahannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aswaja tidak demikian. Akal sehat masih dipertahankan. Ini dicontohkan teolog Aswaja, Imam Asy’ari, ketika mendamaikan golongan Mu’tazilah yang cenderung rasionalis dan Ahlul Hadis yang gandrung tekstualis.

Preseden sikap moderat demikian tentu bukan karena dorongan politis atau mencari aman. Melainkan, didasarkan kepada sabda Rasulullah bahwa paling bagusnya sesuatu adalah yang moderat. Tidak kaku. Ali ibn Abi Thalib dengan tegas mengatakan, ”Ikutilah kelompok yang bersikap moderat yang dapat diikuti orang-orang di belakangnya dan menjadi rujukan bagi orang yang berlebihan alias ekstrem.”

Tinggalkan Balasan