Sangat penting pula mengajak warga NU untuk senantiasa memegang rumusan Aswaja yang dibingkai KH Hasyim Asy’ari, karena ia adalah satu-satunya cara menafsiri Islam yang sesuai dengan konteks keindonesian, tanpa menegasikan ruh ajaran Islam. Terkait dengan itu pula, warga NU harus paham dan merenungi sejarah NU dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, teks resolusi Jihad jilid satu dan dua, serta tidak lupa mendedahkan skeleton poilitik NU. Itu semua sebagai anasir historis untuk menebalkan rasa nasiolisme di tubuh NU.
Di Indonesia sekarang, selepas keran reformasi dibuka, beragam aliran, gerakan, partai dan golongan bermunculan. Di satu sisi, aura demokratis sangat terasa. Di sisi lain, beragam bentrokan sering bergolak antara berbagai pihak. Ini juga merisaukan. Selain masyarakat resah , negara juga terancam karena stabilitasnya semakin digerogoti.

Membayangkan Indonesia sebagai perahu besar, ia seperti berada di tengah samudera dengan badai yang menghantam. Alangkah sangat bijak jika setiap penumpang, apapun agama, aliran, dan etnisnya sama – sama menjaga diri, berbagi, dan bertoleransi tanpa tendensi menguasai perahu karena merasa paling berhak dan paling benar.
