Hikayat Amplop Kosong

Terik matahari menampar-nampar wajahku. Langkahku pun mulai terasa gontai. Leleran keringat telah membasahi pakaian lusuh yang kukenakan. Aku berhenti sejenak di depan sebuah toko kecil. Kurogoh dompet di saku celanaku. Masih ada beberapa lembar lagi. Hari ini lembaran-lembaran itu tidak boleh kubelanjakan semua agar esok masih bisa makan. Aku putuskan untuk mengambil selembar uang bergambar pahlawan membawa pedang untuk membeli beberapa helai amplop di toko yang tampak sepi itu.

Pelan kuayunkan langkah kaki menapaki jalan beraspal yang menguarkan hawa panas. Sambil berjalan kulipat selembar amplop lantas kumasukkan ke dalam amplop yang lain. Amplop itu kini tampak menggembung.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tersenyum bibirku membayangkan rencanaku nanti. Rencana ini kulakukan setelah mendengar pembicaraan orang-orang di warung kopi utara pasar tentang pesta yang digelar tidak jauh di depan sana, tempat di mana terdengar suara dangdut koplo mengentak-entak itu. Pandemi yang berkepanjangan ternyata tak memupus keinginan warga kota ini untuk tetap merayakan pesta.

Kubetulkan letak maskerku yang sebenarnya sudah betul. Tak lupa kubetulkan pula bajuku, walaupun lusuh setidaknya tak boleh ada satu kancing baju pun yang tak terkancingkan. Kulihat mobil-mobil mewah terparkir di pinggir-pinggir jalan. Kata orang memang yang punya hajat ini orang berada. Dan itu pasti mempengaruhi makanan yang disediakan untuk menjamu tamu undangan; lidahku bergoyang membayangkannya.

Semakin bergegaslah langkahku. Suara musik semakin nyaring berdentum memekakkan telinga. Kusisir dengan jemari tangan rambutku yang hampir seminggu ini tak kukeramasi. Semakin dekat pikiranku mulai berkelebat sesuatu di masa lalu. Jalan sempit menuju rumah ini seolah menyeretku pada belasan tahun di masa silam. Ah, apa perlunya aku mengingat waktu yang telah berlalu. Dan rasa lapar semakin mendorong langkakhku.

Tiba juga akhirnya aku di tempat pesta. Berdesakan aku dengan orang-orang menanti waktu bersalaman dengan tuan rumah. Tangan kami disemprot cairan demikian rupa oleh seorang gadis cantik di depan pintu masuk. Seorang Linmas datang menyibak kami yang berdesak-desakan. Diaturlah antrean panjang ini agar tetap berjarak, sesuai prokes. Kulihat para tamu yang panjangnya mengular ini berjabatan tangan silih berganti dengan tuan rumah yang tampak bagai sultan dan permaisuri yang berdiri gagah dan berwibawa di depan singgasana. Walaupun tampak lelah lelaki setengah baya itu tetap berusaha tersenyum. Aku terhenyak, mataku membelalak, senyum itu tiba-tiba memukul hati dan perutku yang perih.

Menjelang sore rupanya tamu yang datang semakin seperti semut, berduyun-duyun tiada hentinya. Dan mataku semakin terpaku pada sultan serta permaisuri yang tengah mengumbar senyum bahagia itu. Di belakangnya pasangan pengantin yang mereka nikahkan tak kalah berbahagia. Dan senyum itu membuat dadaku berdesir-desir. Selera makanku tiba-tiba sirna. Kuhela napas dengan cemas. Dan senyum itu semakin keras meremas batinku.

Bayangan masa lalu semakin berkelebat lincah. Dadaku membuncah. Kepalaku dipenuhi amarah. Ingin kubawa tubuhku menghilang dari tengah keramaian ini. Kuusap leleran keringat yang membasahi keningku. Rasa cemas yang menggerogoti jiwa membuat tubuhku terasa semakin lemas. Dan sayang, di belakangku puluhan orang tengah bergerombol ramai bukan kepalang, tak memberiku ruang untuk beringsut. Aku semakin cemas.

Jarakku dengan tuan rumah yang tengah berbahagia itu semakin dekat. Kuremas tanganku sendiri, menyesali diri telah melangkahkan kaki ke tempat terlaknat ini. Senyum indah perempuan bak permaisuri istana itu membuat kepalaku terasa berat, kakiku pun mulai bergetar. Kurapatkan masker untuk menutupi wajahku. Dan senyum kedua orang penyelenggara pesta itu semakin melukai hatiku. Tak salah lagi, senyum itulah yang pernah membuat masa mudaku penuh warna, dan betapa anehnya hidup yang kulalui ini, detik ini tiba-tiba senyum yang sama membuat hatiku bak diiris-iris sembilu. Pilu benar hidupku. Tiba-tiba pandangan mataku berubah gelap. Dan entah apa yang terjadi berikutnya. Dunia seolah lenyap dalam pekatnya kegelapan.
* * *
Desisan suara kipas angin diiringi udara dingin membangunkanku. Sebuah ruangan mewah nan luas tengah mengungkung tubuh lunglaiku. Aku terbaring di sebuah dipan dengan kasur teramat empuk untukku yang terbiasa tidur di gubuk reot. Di sampingku ada sebuah meja yang di atasnya terdapat segelas teh, ingin sekali aku meminumnya.

Namun tiba-tiba aku bingung kenapa aku bisa berada di tempat ini? Lalu pintu kamar terbuka perlahan, seorang perempuan muncul dari baliknya, ia menyeringai menyapaku. Dan teramat berat untukku menggerakkan otot bibir membalas senyumnya. Di luar sana suara alunan music masih menghentak ceria, jauh dari suasana hati yang tengah kurasa. Kucoba bangun namun ternyata aku tak kuasa.

“Minumlah tehnya, Pak,” pinta seorang wanita yang kutaksir sudah berumur enam puluh lima-an. Tanpa malu aku meminum teh dari uluran tangannya.

Sebentar kemudian dia memberiku sesuap nasi, dengan malu-malu aku melahapnya. Perlahan tenagaku pun kembali. Bulir-bulir keringat membasahi tubuhku.

“Apakah Bapak ini pernah bekerja pada Pak Darsa?” tanyanya dengan suara pelan.

Dahiku berkernyit untuk menjawab pertanyaan itu. Lalu aku menggeleng setelah merasa yakin tak pernah bekerja pada orang yang disebutkan namanya itu. Ah, aku ingat sekarang, aku bisa berada di ruangan ini karena tadi aku pingsan. Mungkin wanita ini sedang mencari tahu apa hubunganku dengan pemilik pesta ini. Ah, kejadian pingsanku di antrean para tamu undangan tadi membuat dadaku terasa nyeri kembali. Bedebah sekali hari ini.

“Baiklah, kalau Bapak sudah merasa enakan silahkan menuju ruang tengah, mari saya antar.” Ajakan wanita itu membuat tenagaku seolah hilang kembali.

“Untuk apa?” tanyaku

Tinggalkan Balasan