Hikayat Amplop Kosong

“Bukankah kedatangan Bapak ke sini untuk menghadiri undangan Pak Darsa?” tanyanya. Kutelan ludah dengan sangat kasar. Aku bingung sekali menentukan sikap.

“Mari,” ucapnya lagi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aku ikuti langkahnya meninggalkan kamar. Jantungku berdetak-detak tak karuan. Aku ingin meninggalkan tempat ini tanpa bertemu dengan tuan rumah, tapi bagaimana caranya? Dan nyatanya langkahku justru semakin menuntunku ke ruangan yang dijanjikan wanita yang kukira adalah jongos Si Darsa itu. Sungguh, aku ingin datang menemui mereka, tapi tidak untuk saat ini. Sungguh aku ingin mendatangi mereka, tapi untuk membuatnya bertekuk lutut padaku, bukan untuk situasi seperti ini. Ah, sudah berapa keinginanku dalam hidup ini yang kemudian hanya menguar menjadi kesumat perasaan lantaran tak pernah menjadi kenyataan?

Sekitar tiga langkah lagi aku akan duduk dengan mereka, sebagai pesakitan yang siap untuk dipermalukan. Ingin sekali aku lari, tapi justru itu akan membuatku semakin terinjak-injak oleh kejumawaan mereka. Aku harus berpura-pura tegar walaupun sejatinya sangatlah gentar. Kukuatkan tubuhku agar tetap tegak berdiri dan sanggup melangkah ke hadapannya.

Kedua suami-istri pemilik pesta menatapku dengan saksama. Untaian senyum terlihat dipaksakan menyambut kehadiranku. Kuyakin mereka tak tahu siapa diriku yang sedari tadi tak melepas masker. Aku disalaminya kemudian dipersilakan duduk. Disiapi pula aku dengan minuman dan beraneka ragam makanan.

“Apakah Bapak sudah baikan?” tanya Si Suami. Ah, namanya Darsa, masih jelas sekali dalam ingatanku nama itu. Tampangnya tak lebih tampan dariku, sayang, menurut wanita dompet tebal lebih menawan daripada rupa yang menawan.

“Silakan dimakan, Pak,” pinta istrinya. Kedua ucapan suami-istri itu kudiamkan belaka.

“Ah, Bapak pasti masiih sangat lelah. Tapi tak perlu khawatir. Kata dokter kami tadi, Bapak hanya kelelahan, tidak lebih. Silakan makan Pak, kami tahu Bapak masih lapar. Silakan, tidak usah sungkan-sungkan.”

“Baiknya Bapak melepas masker agar kita lebih leluasa berbincang-bincang. Siapa nama Bapak?” tanya Darsa lagi.

Tanpa memberikan jawaban, kulepas masker yang menutupi wajahku. Aku sudah menyiapkan sikapku, tak akan peduli pada apa dan bagaimana sikap mereka tatkala melihatku. Dan benar, seketika mereka terkesiap ketika maskerku telah terlepas. Kinanti tertunduk dengan raut wajah terkejut. Darsa menatapku dengan muka merah padam.

“Kromo? Untuk apa kau kemari? Apa kau merasa mendapat undangan atas pernikahan anakku?”

Pertanyaan Darsa kudiamkan. Telah tersulut amarahku oleh sikapnya, terlebih oleh masa lalunya, masa lalu kami.

“Kamu mau mengambil Kinanti dariku? Dia bukan istrimu lagi, dan tak akan pernah menjadi istrimu lagi. Camkan itu baik-baik!!!” Lantang ucapannya menjungkalkan akal warasku.

“Menjijikkan sekali bagiku mau mengambil kembali wanita murahan yang terlena pada lelaki lain karena hartanya. Cuih! Pantang bagiku memungut sampah yang jatuh di comberan!” teriakku tak kalah lantang.

“Aku bukan sampah, Mas!” sahut Kinanti, dengan suara terisak.

“Apa namanya kalau bukan sampah jika wanita rela meninggalkan suami dan anaknya karena tergila-gila pada harta lelaki lain?”

Tinggalkan Balasan