“Hikayat Nusantara” di Majelis Nyala Purnama

Kedua, Profesor Agus Aris Munandar, pakar ilmu arkeologi Nusantara, terkhusus Arkeologi Hindu-Buddha Indonesia (abad ke-5—15 M). Pada sesi ini, iaberkisah tentang Danau Segaran di Trowulan. Danau itu merupakan bukti cinta yang tiada pernah pudar Raja Hayam Wuruk terhadap Dyah Citrarasmi, putri Sunda.

“Hikayat Nusantara adalah warisan yang sarat akan kearifan lokal, nilai-nilai luhur, dan sejarah peradaban bangsa. Lebih dari sekadar cerita pengantar tidur, kisah-kisah ini merefleksikan identitas, moralitas, dan pandangan dunia masyarakat terdahulu. Dari epos kepahlawanan hingga legenda asal-usul, setiap hikayat menyajikan pelajaran berharga tentang keberanian, kejujuran, pengorbanan, dan harmoni dengan alam serta sesama. Meneruskan hikayat-hikayat ini kepada generasi muda adalah sebuah keharusan. Majelis Nyala Purnama kali ini Ini bukan hanya upaya melestarikan narasi kuno, melainkan juga menggali akar budaya yang kuat dengan kebijaksanaan nenek moyang, dan membentuk karakter yang berintegritas di tengah arus globalisasi,” ujar Ketua Komoenitas Makara Fitra Manan ketika

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Majelis Nyala Purnama diakhiri dengan meditasi yang dipandu oleh Pamomong Urban Spiritual Indonesia Dr. Turita Indah Setyani.

“Meditasi dalam acara ini bisa dikaitkan dengan hikayat sebagai sarana untuk merenungkan nilai-nilai tersebut dan mengambil pelajaran dari cerita yang disampaikan. Meditasi, dalam hubungannya dengan hikayat, dapat menjadi cara untuk memahami nilai-nilai budaya, meningkatkan kesadaran diri, mengembangkan empati, dan mencari inspirasi. Dengan demikian, hikayat Nusantara tidak hanya sekadar cerita, tetapi juga merupakan sumber kearifan yang dapat dimanfaatkan melalui praktik meditasi untuk pengembangan diri dan pemahaman budaya,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan