Hikayat Sepucuk Duri dan Selawat Nabi

Sedangkan dirinya? Sepertinya tak berguna sama sekali.

Memikirkan itu, ia iri pada mereka. Dan terkadang bertanya-tanya, mengapa Tuhan menciptakannya dengan bentuk dan kondisi seperti ini. Namun, saat menyadari dirinya hanyalah ciptaan, ia cuma bisa berharap: apabila tak berguna, setidaknya keberadaanya tak bakal merugikan pihak lain —seperti yang dialami oleh salah satu temannya sesama duri di pohon itu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pada suatu malam, seorang pemuda berjalan melewati jalan di depan rumah itu. Mendapati gadis anak pemilik rumah tampak berbincang dengan seorang pemuda di ruang tamu, pelan-pelan ia mendekati sebuah motor yang terparkir dekat pohon jeruk itu. Lalu ia mematahkan satu duri dari batang pohon jeruk lalu menusukkannya pada ban roda belakang motor itu.

Si duri tak tahu kenapa ia melakukan itu. Yang ia tahu, beberapa saat kemudian, saat si tamu pergi dengan motornya, baru beberapa jarak sekonyong-konyong berhenti, lalu menggerutu begitu mendapati roda motornya kempes.

Inilah yang melatari si duri tak ingin meletuskan balon itu; tak ingin membuat sedih si bocah yang tampak amat gembira itu.

Tinggalkan Balasan