“Jika aku berniat seperti itu, aku harus merasakan neraka sebelum kematianku.”
“Tapi hidupmu bukan milikmu seorang!”

Hiro ingin menyudahi pembicaraan malam itu. Lagi pula sekarang telah larut. Ia harus istirahat agar bisa kerja esok hari. Dia berpamit pada saudaranya dan menghaturkan salam.
“Suatu saat kau akan mengerti Hiro. Ada banyak cara untuk mewujudkan dunia yang kau inginkan. Tapi akan selalu ada neraka sebelum itu terjadi.”
“Dan bila saat itu tiba, bolehkah aku lebih sering memanggilmu, Kakang,” balas Hiro.
Hari itu tiba. Karsu yang mengantar Hiro ke stasiun untuk pergi ke kota. Dia masih meragukan apakah itu langkah yang tepat. Tapi Hiro sudah menghabiskan empat tahun di sana. Kurang lebih dia tahu bagaimana watak orang-orang di sana. Dia harus berhati-hati.
Ada seseorang yang menunggunya di stasiun. Sebelum beranjak ke basecamp mereka berbincang soal tahapan pelaksanaan pekerjaannya. Namun banyak hal yang mengganjal. Tapi bila Hiro ingin mengubah dunia, artinya dia harus mulai percaya dengan orang lain meskipun orang itu baru dikenalnya.
Mereka sampai pada siang itu. Hanya ada mereka berdua. Sebuah laptop terpasang rapi di sudut ruangan, di atas sebuah meja.
“Sudah saya siapkan, mas. Itu dibaca-baca dulu soalnya. Saya mau belanja cemilan dulu.”
“Oh siap mas.”
Beberapa menit berlalu, dan partner Hiro masih belum kembali. Sekejap kemudian ada yang mengetuk pintu. Seorang polisi di depan pintu, dia memaksa menggeledah seisi ruangan. Tak terkecuali sebuah laptop di pojokan yang mencurigakan. Dengan berbagai bukti berupa chat joki dan lainnya. Hiro digelandang menuju kantor, tanpa dapat menyanggah dan membela diri.
Beberapa jam kemudian sang partner datang ke kantor. Hiro tengah meregam. Dia ingin semua penjelasan. Tapi orang itu malah mendekat ke samping petugas. Berbisik sebentar, lalu, “Benar pak, dia pelakunya. Dia yang telah menipu saya,” sambil menunjuk-nunjuk wajah pemuda yang tak bersalah itu.
Dalam bingungnya Hiro hanya bisa pasrah. Dan tak lama Kakang kawahnya datang, di samping Hiro. Dan berkata, “Jika kau ingin jadi pahlawan, rasakanlah neraka sebelum kematian.”
Dan hati Hiro meraung sejadi-jadinya.
