Hiro

“Suatu hari kau akan tahu. Untuk menyangga keinginanmu itu, kau harus merelakan segala pikiran duniawimu.”

“Apalah dayaku yang belum bisa menjadi sufi sepertimu,” Hiro terkekeh.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam pikiran Hiro dunia sudah mulai membuka topengnya. Apalah daya, pemuda itu baru tahu bagaimana dunia yang kejam ini bekerja setelah masuk kuliah. Uang adalah penguasa. Sebagaimana guru ngajinya bilang, kuda-kuda paling bijak dan jejak adalah agama. Namun itu pernah diabaikan Hiro. Pemikirannya berpacu dengan realitas selaras pemikiran Barat yang diampunya saat kuliah.

Dia memandang rembulan. Dalam pikirnya terbersit segala hal menyenangkan yang pernah di lalui saat kuliah di Surabaya. Bagaimana keadaan teman-temannya sekarang. Apakah sosok pemuda itu telah dilupakan. Ah, memang nasib sebuah bayangan. Hanya diinginkan saat ada butuhnya.

Karsu pamit pulang, esok dia harus kerja juga. Meski berteman lama, Hiro masih tak tahu apa pekerjaan karibnya itu. Mereka dulu dipertemukan di gerbong kereta. Saat salah seorang jambret membawa lari dompet Karsu, mereka mengejarnya sampai ke sarang. Kumpulan pejambret di sana sudah menunggu barang jarahan temannya. Kedua pemuda itu tak tinggal diam. Dalam sekejap saja mereka bisa mengatasinya.

“Kau sedang melamun apa?”

“Suara itu datang tiba-tiba,” Hiro tersenyum, dia tak kaget. Saudaranya sedang menyapa dalam pikirannya.

“Entahlah, kurasa di sini mulai tak nyaman.”

“Kenapa?”

“Aku mulai merasa tak berguna.”

“Jangan begitu, tak baik.”

“Nyatanya mereka hanya datang karena dua hal. Butuh bantuan atau kekayaan.”

Hiro berniat ke kota beberapa hari ke depan. Ada seseorang yang menjanjikan pekerjaan kilat dengan bayaran cukup tinggi. Sebagai seorang joki ujian masuk kuliah. Kakang kawahnya sedikit khawatir. Ada sesuatu yang tak beres dengan pekerjaan ini.

“Tak apa, mungkin ini jalanku bisa menolong orang-orang.”

“Menjadi pahlawan bukan berarti harus mengorbankan hidupmu, Hiro.”

Tinggalkan Balasan