Hoaks Membunuh Kita (1): Yang Cerdas Tak Menelan Hoaks

Dalam praktik dunia berita, mewawancarai seseorang sangatlah tepat guna mengetahui kebenaran yang diberitakan media terhadapnya. Dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan pernyataan kepada seseorang, maka ia akan membenarkan dan adakalanya menyalahkan dari setiap pernyataan yang ditujukan kepadanya dan meluruskan hakikat sebenarnya yang terjadi di lapangan.

  1. Al-Ijazah

Pada metode ini, seorang guru memberikan sebuah hak publikasi terhadap berita atau hadis, artinya bahwasannya seseorang yang di-report telah memberikan izin untuk dipublikasikan terkait dirinya. Dengan metode ini maka kemungkinan dapat meminimalisasi terjadinya berita miring, hal ini karena seseorang yang diberitakan ketika memberikan izin publikasi tentunya ia mengetahui tentang isi berita tersebut.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/
  1. Al-Munawalah

Munawalah berarti seorang guru memberikan kitab atau tulisannya terkait hadis kepada murid. Dalam dunia entertainment, terkadang seseorang yang akan di-report ke publik memberikan biodata atau tulisan tentang dirinya sebagai bahan publikasi kepada pihak yang akan memupublikasi. Artinya, bahwa dalam metode ini juga terdapat unsur izin dari yang dipublikasi. Maka dengan metode ini kemungkinan besar tersebarnya berita hoaks juga dihindari.

  1. Al-Kitabah

Seorang guru menuliskan sebuah tulisan tentang apapun (hadis) kemudian memberikan kepada murid untuk diriwayatkan oleh murid. Tulisan dari guru tersebut adakalanya murid yang meminta, adakalanya juga sang guru menulis dengan sendirinya.

Sama halnya dengan publikasi, seseorang mengarang dan menulis suatu hal dan ia memberikan kepada seseorang untuk dipublikasikan. Metode ini memiliki kesamaan dengan al-munawalah, perbedaannya terletak pada sesuatu yang diberikan dalam metode ini tidak terbatas, akan tetapi pada al-kitabah terbatas pada tulisan saja.

  1. Al-I’lam

Metode seperti ini masih dalam perselisihan dari kalangan muhaddisin. Al-I’lam adalah apabila seorang guru memberitahukan kepada murid bahwasannya hadis demikian adalah hasil dari periwayatannya hasil apa yang ia dengar dari gurunya, tanpa disertai dengan adanya perizinan ataupun perintah untuk mempublikasikannya. Hal ini adakalanya dilakukan seorang guru guna menjaga keasliannya tanpa ada yang memplagiasinya ataupun mengubah sehingga terjadi kesalah pahaman publikasi yang berujung pada hoaks.

  1. Al-Wasiyyah

Seseorang ketika akan melakukan sebuah perjalanan atau akan meninggal dunia biasanya akan memberikan wasiat. Dalam dunia hadis pernah juga dilakukan oleh seorang guru kepada muridnya untuk meriwayatkan kitabnya atau tulisannya. Dunia media intertaiment juga terjadi yang demikian. Ada seseorang yang akan meningggal berpesan nanti kejadian ini dan demikian agar dipublikasikan.

  1. Al-Wijadah

Terkadang ketika kita berjalan menemukan secarik kertas yang bertuliskan sesuatu dan kita menilainya berguna sehingga kita mempublikasikannya. Atau ketika kita stalking di dunia maya menemukan sebuah artikel, bacaan, dan berita sehingga kita langsung mengambil dan men-share berita tersebut. Dalam konteks tahamul wa al-ada’, hal ini dinamakan metode al-wijadah. Hasil publikasi dari metode al-wijadah berstatus munqati’.

Demikian delapan metode yang dapat kita gunakan untuk mengakses berita sebagai mana muhaddisin dulu mengakses hadis. Salam cerdas, salam hebat, orang cerdas dan orang hebat tidak termakan hoaks.

Tinggalkan Balasan