dusun-dusun kecil, menarik ingatan kembali ke pangkal
kita lahir dari rahim garam lalu ombak berdebaran.
tersebab laut dan sepetak tanah humus, menepati
saban keringat di tiap ujung hari. menolak lupa
menyambut anak anak yang tumbuh dari rahim bumi
dan kita hanya menghitung nikmat paling tampak
alpa pada kehangatan lain yang terbit tanpa henti
2020.

PERJALANAN WAKTU
tiap kujumpai di tepi jalan bercabang ini,
kau terus berjalan ke selatan menunggang angin
terbang ke negeri yang belum tercatat peta
atau sekejap disinggahi rihlah Ibnu Batutah.
kita sama-sama melepas ingatan, merangkul
sunyi di sepanjang perjalanan. sesekali
menoleh ke belakang, ke pematang
yang lebih luas dari masa lalu
betapa hampa tersisa, rasa kecut kesumba
di bawah langit merah tembaga, kita berserapah
memperpanjang kecup di kening, membagi hening
di dusun mimpi. batas jauh yang jarang kusentuh.
tengah perjalanan, sebidang jurang terhampar
tiba tiba. kuncup rukam mencucup telapak tangan
ini bukan duri biasa, membagi nyeri segala perih
sakit yang piatu bertahan dari luruh.
kemudian, jalan panjang kita berakhir
di halaman rumah rumah disesaki mawar
lengkap dengan duri durinya. kamboja merah
ditabur, menjemput tangis rekah, menyulut resah,
setapak yang kita pahat sebelumnya
raib ditelan kabut-kabut tipis
2020.
KIDUNG HUJAN
yang menghardik panas di halaman
sambal mengubur terik. adalah debar hujan
berkali mengatur suhu dingin di punggung
luruh ke segala penjuru daun, mengalahkan
gigil embun di tepian subuh. menjahit retak tanah,
bersekutu dengan kering dan perca ranting
