aku menghitung setiap rintik yang jatuh,
mengecup atap rumah ilalang di pematang
menawarkan dering aroma asin, kau
membasuh luka lusuh dari silam.
sedang matahari tinggal kerangka
di sudut langit menemani awan bunting
teruslah menyanyi di pekarangan, mengusir
perasaan perasaan bosan selama dalam
rahim gemawan. sekadar kidung sumbang
meski menggelikan telinga kiri kanan

pada saatnya, diam satu satunya jalan
bila segala dingin diredam selimut tebal
dan orang orang lebih memilin dengkur
sebagai kehangatan nasib selanjutnya
2020.
ZIARAH MALAM
harum kamboja merah memecah sunyi kita
debar lampu pijar di pojok menyentuh kening
tanah merah menghantar pada liang fana
sembilan puluh sembilan doa, kuterbangkan
dengan sayap patah patah. sedang malam
merendah nyaris menyentuh tanah. hanya
derai gelap melubangi keperkasaanku
kenangan tinggal belulang, kerangka retak
dan masa lalu sobek-sobek di nisan tua
kepadamu dihatur tiap zikir melangit.
atau setiap jarum resah berdetak
dalam kepala. menghentak kesunyian
yang kubuat buat. maka pada hening lain
semilir ingin kuhembuskan pelan pelan.
aku mengunjungimu dengan detak
dipersempit disetubuhi gamang. lewat
jalan lebih sempit disesaki jari jari carang
menaklukkan undakan demi undakan.
;hingga tiba dengan ketenangan paling tampak
hati membadai yang redam tiba-tiba.
lekaslah bungkam lengking asing
dari bibir angin
2020.
