Pementasan drama Iblis menggambarkan tentang kesetiaan dan keteguhan iman Ibrahim ketika diperintahkan Tuhan untuk menyembelih anaknya, Ismail. Sebelum perintah itu terjadi, raja Iblis yang diperankan oleh Ahmad Fauzan memerintahkan para bawahannya, dengan mendatangi dan membujuk Siti Hajar, yaitu istri Ibrahim, untuk menggagalkan niat suci tersebut. Tetapi Siti Hajar tetap teguh dalam keimanannya.
Setelah gagal menggoda Siti Hajar, Iblis menghadapi Ibrahim dan Ismail secara langsung. Namun, keteguhan iman dan ketaatan keduanya Membuat iblis tak berdaya. Ibrahim tetap melaksanakan perintah Tuhan, dan Ismail rela menjadi korban demi keimanannya kepada Tuhan. Pada akhirnya, iblis menyerah dan tidak lagi mengganggu Ibrahim dan keluarganya, menunjukkan bahwa godaan iblis sia-sia terhadap orang-orang yang memiliki iman yang teguh.

Dalam penggambaran Mohammad Diponegoro, Iblis ditampilkan sebagai makhluk yang senantiasa mengganggu dan menipu manusia. Contohnya saat Iblis ingin menggagalkan niat Ibrahim untuk sembelih Ismail atas perintah dari Tuhan. Iblis juga berusaha merayu Siti Hajar agar menggagalkan niat suaminya itu. Tetapi usaha itu gagal karena Siti Hajar adalah orang yang saleh dan menolak godaan itu. Karena jika keimanannya tidak dihancurkan, maka mereka akan mengalami kekalahan atau kehancuran.
“Kau seperti Ibumu. Kau bisa membaca pikiranku, Ismail. Memang itu wahyu, aku akan mengajak kau naik gunung ini, dan di dekat batu ini kita berhenti, lalu kuhunus pedangku ini, Ismail. Dan kau lalu kusembelih, kau kusembelih. Engkau diam, Ismail. Bagaimana perasaanmu?”
Keluarga Ibrahim adalah tokoh utama dalam pementasan Iblis yang diperankan oleh Akhdan Yafie sebagai Ibrahim, Naya Nurlaila dan Tiara Martha sebagi Siti Hajar, dan Ahmad Dailami sebagai Ismail. Keluarga Ibrahim sangat patuh kepada perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail.
