Ibnu Khaldun dan Kurva Laffer

Kita mengenal Ibnu Khaldun sebagai sarjana Muslim, orang-orang Barat mengenalnyaa sebagai filosof, sosiolog, dan ahli ekonomi.

Di masa Ibnu Khaldun, mempelajari semua bidang ilmu masih dianggap sebagai bagian dari menjalankan perintah agama. Lebih-lebih di abad-abad sebelumnya. Mempelajari dan mendalami matematika, filsafat, linguistik dan sastra, ilmu fisika, ilmu kimia, ilmu biologi, ilmu kedokteran, ilmu ekonomi dan keuangan, ilmu administrasi dan kemiliteran sama pentingnya dengan mempelajari dan mendalami ilmu al-Quran, ilmu hadits, ilmu tafsir, ilmu fikih, dan sebagainya. Kemudian semuanya memperoleh sebutan ulama, orang-orang berilmu —hanya spesialisasinya yang berbeda.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tapi kini, ketika ilmu telah terpolarisasi —ada yang disebut ilmu agama dan ilmu non-agama— yang dianggap menjalankan perintah agama “hanyalah” mempelajari dan mendalami ilmu al-Quran, ilmu hadits, ilmu tafsir, ilmu fikih, dan semacamnya. Itulah yang disebut dengan belajar ilmu agama. Sementara, yang mendalami matematika, filsafat, linguistik dan sastra, ilmu fisika, ilmu kimia, ilmu biologi, ilmu kedokteran, ilmu ekonomi dan keuangan, dan teknologi informasi, misalnya, tidak memperoleh sebutan itu. Bahkan ada yang menganggap sebagian ilmu sesat, seperti filsafat, misalnya.

Karena itulah, pada akhirnya tak banyak umat Islam yang menguasai dan berkecimpung di bidang-bidang yang dari sisi keilmuannya disebut bukan ilmu agama. Sarjana-sarjana Muslim masa lalu seperti Ibnu Khaldun, al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Ibnu Rysd, al-Kindi, dan sebagainya itu hanya hidup dalam kenangan.

Saya merindukan semua ilmu diberi kedudukan yang sama, seperti di masanya.

Tinggalkan Balasan