Di Mata Ikan Tuhan Memandang

Kang Birin buru-buru ngajak mancing. Memang habis hujan semalam, dan biasanya bikin sungai banyak ikan. Di arus deras yang kecoklatan, di sana mereka berenang-renang. Di halaman sudah menunggu, dengan pancing di tangan dan ember bekas cat yang berwarna putih biru. Menggunakan celana pendek, dan pakai topi.

“Sudah siap belum, Kang?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Sabar, Kang, ini saya siapkan dulu alatnya. Dan istri saya katanya sedang menata bekal makan siang. Ramesan seperti biasanya. Duduk dulu saja, Kang Birin.”

Dengan langkah tak sabar ia bergegas masuk ke depan rumah Kang Sahril. Duduk di dipan bambu sambil ongkang-ongkang kaki.

“Masih lama apa, Kang?”

“Sabar. Sebentar lagi kok. Ikannya juga nggak bakalan lari, Kang.”

“Iya, tahu, Kang. Tapi kan saya ini sudah tak sabar ingin mancing. Ketemu sungai dan ketemu ikan gede-gede.”

Suaranya tidak terlalu keras seperti pada awalnya. Kang Birin dengan wajah yang masih resah. Bertanya-tanya, ‘kenapa Sahril lama sekali. Memangnya masak apa sih istrinya?’ Dengan penasaran ia memasuki rumah.

“Assalamu ‘alaikum.”

“Wa’alaikum salam, Kang Birin.” Suara istri Kang Sahril lembut mengalun.

“Kang Sahril kok lama sekali, saya sudah tungguin sampai beberapa menit. Katanya lagi nyiapin pancing sama bekal buat makan siang. Di mana ya, Mbak?”

“Oh, barusan keluar ke warung beli telur sebentar.”

“Wah, ini jadinya lama kalau begitu.”

“Sabar, Kang. Orang cuaca juga masih panas begini. Mau berangkat mancing tapi tidak sarapan nanti semaput di jalan atau di pinggir kali gimana? Malah dibawa sungai dan dimakan ikan. Hehe.”

“Duduk dulu, Kang. Nanti saya bikinkan wedhang. Mau kopi atau teh, Kang?”

“Wah, jangan repot-repot lah, Mbak. Kopi saja.”

Sambil senyum-senyum sendiri duduk dan menunggu. Akhirnya Sahril datang memberikan telur pada istrinya. Dan aroma telur goreng menyeruak di udara. Perut kang birin tiba-tiba bunyi, dan terdengar oleh Sahril.

“Kita makan dulu saja, Kang. Baru berangkat mancing.”

“Lah, katanya mau bawa bekal?”

“Ya, tetep bawa. Tapi kita makan dulu. Kayaknya Kang Birin lapar juga. Nemenin saya-lah.”

Wajahnya senang karena ditawari makan oleh Sahril. Sebenarnya memang Sahril dan istrinya selalu menjamu tamu begitu. Dengan makan bersama. Lauk seadanya. Kopi pasti asal tamunya suka kopi.

Sambil nyeruput kopinya Kang Birin terpikir dengan spot mancing yang minggu lalu membuatnya mendapat ikan lele segede paha. Dan dapat juga ikan bawal, banyak sekali. Rencana mengajak Sahril memang tepat, karena sekalian dia pamer bahwa tempat yang ia temukan memang benar-benar ampuh buat kail pancing mendarat.
Setelah makan dengan telur dadar, sayur pepaya, tempe goreng, dan teh manis mereka berangkat mancing. Melewati jalan-jalan sawah yang agak becek karena hujan semalam. Beberapa jalan di kebun ditumbuni guguran daun. Cahaya terlontar begitu oranye di udara dan tanah. Sungai yang dituju sudah dekat.

“Di sana, Kang, spotnya.” Kang Birin mengarahkan. Sambil melangkah diikuti oleh Sahril.

Tinggalkan Balasan